PERTEMUAN
PERTAMA DAN PETUALANGAN PERTAMA
Hujan yang
turun rintik-rintik sangat menyayat hati
yang sudah pedih ini. Seperti dendang
lagu haru yang menyelimuti hati. Tiga tahun telah berlalu, namun masalalu itu
masih kental mengiang-ngiyang di memori dalam otakku. Tiga tahun itu terasa lambat tanpa
dia. Sang kawan yang telah lama menghilang tanpa kabar, dan disini kawan yang
lain selalu menunggu dengan harapan yang besar. Masa menuju tiga tahun itu
telah dapat kulewati dan jadilah sekarang ini. Dan juga baru saja aku menerima
pesan singkat dari dia.
“Aku
Sheila, sibuk gak? Aku pengen ketemu ma kamu! Kalo bisa besok pagi, di belakang
SD.” Itu bunyinya.
Aku kaget bukan
main melihat namanya. Nama yang kunanti terukir di dalam ponselku, segera
aku membalas.
“Ini
benar benar kamu, Teman?”
Diapun
membalas.
“Ya”
“Ah…
kawan…!!!
Oke deh aku akan datang tapi kamu juga
HARUS datang! Deal!” balasku lagi.
^^^^^
Besoknya…
Aku
tiba terlebih dahulu, Sheila belum datang. Aku paling benci menunggu. Menunggu
dengan sangat takut kehilangan. Tiga tahun aku menunggu sekarang harus menjadi
akhir dari penantianku. Dengan was was aku melihat sekeliling, dia muncul
menggunakan baju berwarna ungu entah apa gambarnya yang kutahu warna itu warna
faforit kita berdua selain warna biru dan aku mengenakan baju warna biru itu.
Tanpa ada janjian sebelumnya warna faforit kami kami kenakan sekarang.
“Hai” dia menyapaku
terlebih dahulu.
“Hai”
sapaku kembali dan kuikuti senyuman bahagia yang tidak bisa kusembunyikan.
“Ah lama banget sih hampir
aja aku mau netesin air mata lagi, gara gara menunggu.”
“Ih
jangan donk! Kalo kamu sedih aku juga ikut sedih. Sorry terlambat aku gak maksud, Ibu nyuruh aku beli
bensin dulu, mau pergi tapi keburu-buru
jadi aku deh kena. Apa lagi
antinya lama banget.” Jelasnya.
“Iya emang sekarang bensin
langka.”
“Eh,… ngomong-ngomong
gimana sekolah kamu?” Dia mengalihkan
arah pembicaraan kami.
“Ya
gini deh, ada kalanya aku merasa pandai tapi banyak sekali waktu dan situasi
yang buat aku merasa bodoh dan benar benar kurang. Itu sih aku kalo kamu?” aku
balik melimpahkan pertanyaan padanya.
“Ya
aku bersyukur aja dapat sekolah yang ga sebagus sekolah kamu, jadi aku masih
bisa dapat ranking. Tapi kalau aja aku sekolah disekolahan kamu pasti biasa
juga kayak kamu.” Dia selalu begitu dari dulu tidak berubah. Selalu merendahkan
hati padaku.
“Eh
jalan yuk, ga enak banget cerita dibelakang sekolah gini, kayak lagi ngumpet.
Jadi inget dulu waktu SD, selalu tempat ini.”
“Iya
sih” balasnya.
“Gimana kalo kita ke pasar
raya sana, mumpung ada kan jarang jarang.”ajakku.
“Oke,
kalau begitu ayo nanti keburukesiangan. Tapi bukannya itu cukup jauh?” pasar
raya memang jauh letaknya.
“Iya sih tapi kita kan
berdua, terus kita kan mau cerita cerita ga papa nanti juga nyampenya cepet.”
Dengan
santai kami berjalan sambil bercerita. Kisah kisah kami yang selama ini terjadi
tanpa satu sama lain kini seperti kembali dan kami sama sama terbawa cerita
masing masing. Juga kami membahas masa masa kita ketika masih mengenakan
seragam merah putih. Betapa lugunya kami dulu, begitupun sekarang kami tetap
lugu.
Tanpa
kami duga ditengah perjalanan kami, hujan yang tadinya turun hanyalah butiran
kecil, kini berubah menjelma butiran butiran besar yang membasahi tubuh kami.
Awalnya kami hanya berteduh dipohon namun di belakang pohon besar tersebut ada gubuk yang dapat kami singgahi dari pada
pohon ini. Walaupun tempatnya agak jauh kami pergi ke tempat itu. Kami berteduh
sambil meneruskan cerita kami yang
sempat terputus sampai hujan reda.
Tapi
ada satu yang mengganjal sedari tadi truk truk yang terus menerus menghampiri sebuah gudang yang lumayan
jauh dari gubuk. Karena memang truk truk itu terasa sangat mencurigakan, kami sepakat untuk
menghampiri gudang tersebut. Kami masuk dan apa yang terjadi?.
“Astaghfirullah
Sheila! Apa itu? Benarkah tong tong itu berisi bensin? Tanyaku dengan terkejut
karena melihat tumpukan tong tong berisi cairan yang aromanya menyerupai
bensin.
“Wah
jadi ini yang selama ini membuat bensin langka dan harganya melambung! Ini
benar benar keterlaluan. Apa yang harus kita lakukan?” Sheila berbalik
menatapku.
“Ayo
masuk kita cek apa itu benar benar bensin atau hanya air biasa.” Ajakku.
“Ah
itu benar ini bensin lihat saja warnanya apalagi baunya. Tapi nggak ah, ini
berbahaya nanti kalau ketahuan bagaimana?” Sheila ketakutan.
“Udahlah
ga apa apa, gak akan ketahuan lagian ini gak bisa dibiarin!” tukasku.
“Emh.. iya deh.” Jawabnya
pasrah.
Kami
mengendap endap dengan hati hati jangan sampai terlihat oleh orang orang yang
bekerja itu. Kucium baunya lebih teliti dan ternyata dugaan kami benar berdrum
drum bensin tersimpan di gudang itu.
Ketika
kami menuju gudang itu ada seekor kucing hitam yang tertidur dan menakutkan.
Kami mencoba tetap diam walau hanya di depan kucing namun karena kecerobohan
kami kucing itu terusik tidurnya dan mengeong. Para pekerja yang mendengar
ngeongan mengerikan itu menemui sang kucing. Syukurnya kami berhasil sembunyi.
Namun takdir berkata lain bagaimanapun cara kami mengendap endap dan
bersembunyi ada seorang pekerja yang mengetahui keberadaan kami. Kami
berlari ketakutan. Tiga dari banyak
orang itu berlari mengejar kami. Mungkin
takut kalau kalau kami membocorkan hal buruk ini. Dan pekerja yang
lainnya meneruskan pekerjaan kotor itu dengan cepat dan cemas.
Kami
tetap berlari sampai menemukan rumah kosong tak berpenghuni yang berada di
sekitar dari gudang itu. Kami menerobos seluruh ruangan di rumah itu. Entah
barang apa saja yang kami temui kami
lempar menuju orang orang itu. Semua hal telah kami coba lakukan untuk
menghindar dan menghalangi mereka. Tetapi orang
Akhirnya
sampailah kami dipenghujung pengejaran. Kami keluar melewati pintu belakang.
Namun bukannya selesai kami malah semakin dekat saja. Kami kehabisan akal, satu
satunya cara kami harus berpencar. Biar mereka mengejarku dan Sheila harus bisa
lari yanpa sepengetahuan mereka dan bisa mencari bantuan bahkan polisi. Aku
menarik perhatian mereka dan berlari lain arah dengan Sheila. Tepat, tiga orang
itu hanya mengejarku. Aku terus berlari sampai akhirnya aku menemui sungai aku
takut harus berbuat apa. Tak tahu harus kemana lagi untuk menghindari mereka.
Tapi Tuhan selalu saja menyelamatkan hambanya yang membutuhkan. Sheila datang
membawa orang orang dewasa yang baik untuk menolong. Akhirnya mereka bertiga
dipaksa untuk menunjukan tempat mereka menyimpan bensin bensin illegal itu. Dan
karena kegesitan Sheila ternyata di tempat itu sudah berada polisi polisi yang
siap meringkus para penjahat.
“Alhamdullilah” desahku.
“Ah
sudah selesai rupanya” lanjut Sheila
“Inilah
perjalanan kita, kufikir aku bisa mengajakmu jalan jalan dan bersenang senang.
Tapi nyatanya kita malah hampir celaka.”
“Nggak,
ini good experience, karena hari ini masalah ini terkuak dan kita mempunyai
perjalanan yang lebih seru dan berarti di pertemuan kita ini jujur ini
petualangan pertamaku.”
“Aku
juga” tukasku.
2012
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar