Sabtu, 19 Maret 2016

cerpen persahabatan



                            PERTEMUAN PERTAMA DAN PETUALANGAN PERTAMA

            Hujan yang turun rintik-rintik  sangat menyayat hati yang sudah pedih  ini. Seperti dendang lagu haru yang menyelimuti hati. Tiga tahun telah berlalu, namun masalalu itu masih kental mengiang-ngiyang di memori dalam otakku. Tiga tahun itu terasa lambat tanpa dia. Sang kawan yang telah lama menghilang tanpa kabar, dan disini kawan yang lain selalu menunggu dengan harapan yang besar. Masa menuju tiga tahun itu telah dapat kulewati dan jadilah sekarang ini. Dan juga baru saja aku menerima pesan singkat dari dia.
                “Aku Sheila, sibuk gak? Aku pengen ketemu ma kamu! Kalo bisa besok pagi, di belakang SD.” Itu bunyinya.
Aku kaget bukan main  melihat namanya. Nama  yang kunanti terukir di dalam ponselku, segera aku membalas.
                “Ini benar benar kamu, Teman?”
                Diapun membalas.
                “Ya”
                “Ah… kawan…!!!
Oke deh aku akan datang tapi kamu juga HARUS datang! Deal!” balasku lagi.

                                                                                                ^^^^^
                Besoknya…
                Aku tiba terlebih dahulu, Sheila belum datang. Aku paling benci menunggu. Menunggu dengan sangat takut kehilangan. Tiga tahun aku menunggu sekarang harus menjadi akhir dari penantianku. Dengan was was aku melihat sekeliling, dia muncul menggunakan baju berwarna ungu entah apa gambarnya yang kutahu warna itu warna faforit kita berdua selain warna biru dan aku mengenakan baju warna biru itu. Tanpa ada janjian sebelumnya warna faforit kami kami kenakan sekarang.
                Hai” dia menyapaku terlebih dahulu.
                “Hai” sapaku kembali dan kuikuti senyuman bahagia yang tidak bisa kusembunyikan.
                Ah lama banget sih hampir aja aku mau netesin air mata lagi, gara gara menunggu.”
                “Ih jangan donk! Kalo kamu sedih aku juga ikut sedih. Sorry  terlambat aku gak maksud, Ibu nyuruh aku beli bensin dulu, mau pergi tapi keburu-buru  jadi aku deh kena. Apa  lagi antinya lama banget.”  Jelasnya.
                Iya emang sekarang bensin langka.”
                Eh,… ngomong-ngomong gimana sekolah kamu?”  Dia mengalihkan arah pembicaraan kami.
                “Ya gini deh, ada kalanya aku merasa pandai tapi banyak sekali waktu dan situasi yang buat aku merasa bodoh dan benar benar kurang. Itu sih aku kalo kamu?” aku balik melimpahkan pertanyaan padanya.
                “Ya aku bersyukur aja dapat sekolah yang ga sebagus sekolah kamu, jadi aku masih bisa dapat ranking. Tapi kalau aja aku sekolah disekolahan kamu pasti biasa juga kayak kamu.” Dia selalu begitu dari dulu tidak berubah. Selalu merendahkan hati padaku.
                “Eh jalan yuk, ga enak banget cerita dibelakang sekolah gini, kayak lagi ngumpet. Jadi inget dulu waktu SD, selalu tempat ini.”
                “Iya sih” balasnya.
                Gimana kalo kita ke pasar raya sana, mumpung ada kan jarang jarang.”ajakku.
                “Oke, kalau begitu ayo nanti keburukesiangan. Tapi bukannya itu cukup jauh?” pasar raya memang jauh letaknya.
                Iya sih tapi kita kan berdua, terus kita kan mau cerita cerita ga papa nanti juga nyampenya cepet.”
                Dengan santai kami berjalan sambil bercerita. Kisah kisah kami yang selama ini terjadi tanpa satu sama lain kini seperti kembali dan kami sama sama terbawa cerita masing masing. Juga kami membahas masa masa kita ketika masih mengenakan seragam merah putih. Betapa lugunya kami dulu, begitupun sekarang kami tetap lugu.
                Tanpa kami duga ditengah perjalanan kami, hujan yang tadinya turun hanyalah butiran kecil, kini berubah menjelma butiran butiran besar yang membasahi tubuh kami. Awalnya kami hanya berteduh dipohon namun di belakang pohon besar tersebut  ada gubuk yang dapat kami singgahi dari pada pohon ini. Walaupun tempatnya agak jauh kami pergi ke tempat itu. Kami berteduh sambil meneruskan cerita kami yang  sempat terputus sampai hujan reda.
                Tapi ada satu yang mengganjal sedari tadi truk truk yang terus menerus  menghampiri sebuah gudang yang lumayan jauh dari gubuk. Karena memang truk truk itu terasa sangat mencurigakan, kami sepakat untuk menghampiri gudang tersebut. Kami masuk dan apa yang terjadi?.
                “Astaghfirullah Sheila! Apa itu? Benarkah tong tong itu berisi bensin? Tanyaku dengan terkejut karena melihat tumpukan tong tong berisi cairan yang aromanya menyerupai bensin.
                “Wah jadi ini yang selama ini membuat bensin langka dan harganya melambung! Ini benar benar keterlaluan. Apa yang harus kita lakukan?” Sheila berbalik menatapku.
                “Ayo masuk kita cek apa itu benar benar bensin atau hanya air biasa.” Ajakku.
                “Ah itu benar ini bensin lihat saja warnanya apalagi baunya. Tapi nggak ah, ini berbahaya nanti kalau ketahuan bagaimana?” Sheila ketakutan.
                “Udahlah ga apa apa, gak akan ketahuan lagian ini gak bisa dibiarin!” tukasku.
                Emh.. iya deh.” Jawabnya pasrah.
                Kami mengendap endap dengan hati hati jangan sampai terlihat oleh orang orang yang bekerja itu. Kucium baunya lebih teliti dan ternyata dugaan kami benar berdrum drum bensin tersimpan di gudang itu.
                Ketika kami menuju gudang itu ada seekor kucing hitam yang tertidur dan menakutkan. Kami mencoba tetap diam walau hanya di depan kucing namun karena kecerobohan kami kucing itu terusik tidurnya dan mengeong. Para pekerja yang mendengar ngeongan mengerikan itu menemui sang kucing. Syukurnya kami berhasil sembunyi. Namun takdir berkata lain bagaimanapun cara kami mengendap endap dan bersembunyi ada seorang pekerja yang mengetahui keberadaan kami. Kami berlari  ketakutan. Tiga dari banyak orang itu berlari mengejar kami. Mungkin  takut kalau kalau kami membocorkan hal buruk ini. Dan pekerja yang lainnya meneruskan pekerjaan kotor itu dengan cepat dan cemas.
                Kami tetap berlari sampai menemukan rumah kosong tak berpenghuni yang berada di sekitar dari gudang itu. Kami menerobos seluruh ruangan di rumah itu. Entah barang apa saja  yang kami temui kami lempar menuju orang orang itu. Semua hal telah kami coba lakukan untuk menghindar dan menghalangi mereka. Tetapi orang
                Akhirnya sampailah kami dipenghujung pengejaran. Kami keluar melewati pintu belakang. Namun bukannya selesai kami malah semakin dekat saja. Kami kehabisan akal, satu satunya cara kami harus berpencar. Biar mereka mengejarku dan Sheila harus bisa lari yanpa sepengetahuan mereka dan bisa mencari bantuan bahkan polisi. Aku menarik perhatian mereka dan berlari lain arah dengan Sheila. Tepat, tiga orang itu hanya mengejarku. Aku terus berlari sampai akhirnya aku menemui sungai aku takut harus berbuat apa. Tak tahu harus kemana lagi untuk menghindari mereka. Tapi Tuhan selalu saja menyelamatkan hambanya yang membutuhkan. Sheila datang membawa orang orang dewasa yang baik untuk menolong. Akhirnya mereka bertiga dipaksa untuk menunjukan tempat mereka menyimpan bensin bensin illegal itu. Dan karena kegesitan Sheila ternyata di tempat itu sudah berada polisi polisi yang siap meringkus para penjahat.
                Alhamdullilah” desahku.
                “Ah sudah selesai rupanya” lanjut Sheila
                “Inilah perjalanan kita, kufikir aku bisa mengajakmu jalan jalan dan bersenang senang. Tapi nyatanya kita malah hampir celaka.”
                “Nggak, ini good experience, karena hari ini masalah ini terkuak dan kita mempunyai perjalanan yang lebih seru dan berarti di pertemuan kita ini jujur ini petualangan pertamaku.”
                “Aku juga” tukasku.

2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar