Sabtu, 19 Maret 2016

cerpen religi kaya pesan moral



Jalan Tuhan
Suara adzan yang berkumandang menggertakan hati setiap insan yang mendengarkannya. Senja yang dapat membuat suasana tenang bagai deruan angin sejuk yang berhembus setiap hari. Begitupun makna senja itu sendiri bagi Fadil. Di senja ini, senja yang setiap hari ia lakukan adalah hal yang sama. Pergi ke masjid juga sebagai pondok pesantren di desanya yang dekat dengan rumahya. Di setiap hari harinya diselimuti kegiatan kegiatan keagamaan. Kali ini, disenja ini terasa berbeda bagi Fadil. Angin sejuk tiba tiba berhembus menerpa wajahnya  ketika ia membuka pintu rumahnya untuk pergi ke masjid. Seketika itu ia menyebut salah satu kalimat Allah.
            ‘’Subhannallah!” katanya lirih.
            Remaja yang akan meninggalkan bangku sekolah menengah pertama itu melanjutkan perjalanannya pergi ke rumah Allah. Sang ibu yang telah berjalan mendahuluinya, terlihat begitu renta. Dari belakang dilihatnya punggung sang ibu yang telah mengasuh Fadil dan adiknya. Ibunya memang seorang yang emosional tetapi disisi lain ibunya sangat lembut. Belakangan ini ibunya sering sakit-sakitan dan pemarah. Kata dokter ibunya terkena kanker otak. Itu yang membuat hati Fadil tertekan belakangan ini. Ayahnya yang sekarang berjalan beriringan dengannya terlihat begitu banyak pikiran. Namun demikian keluarga ini kental dengan keislamannya karena dilain masih keturunan kyai juga akrab dengan suasana pesantren. Penduduk di daerah ini juga  seperti mengikuti peraturan ponpes yang disiplin tinggi sehingga tidak heran jika masyarakatnya tertib dan teratur .
           Beberapa waktu setelah tiba tepat di pintu gerbang masjid ia bertemu teman-temannya yang juga mengikuti kegiatan –kegiatan pondok pesantren itu .
            “Hai Dil,  malam ini jangan pulang dulu, disini bareng temen –temen kita seneng –seneng besok kan kita akan berpisah ,” ucap Ulil salah satu teman Fadil yang mereka anggap paling nakal.
            “Oh pantas hari ini sepertinya aku rindu teman-teman” jawab Fadil.
            “Iya,  besok mereka akan pulang kampungkan!  Sergah Gibran teman Fadil lainnya.
            Tiba-tiba  Fadil menatap langit senja yang akan sirna ditelan kegelapan.  Hatinya terasa tenang saat itu juga. Ia tak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Entah mengapa di hari ini seperti suatu hari dimana Fadil bisa berfikir secara luas menuju rumah Allah. Bagaimana kebesaran Allah dengan ini Ia telah tahu esok tak bisa bertemu temannya lagi seperti biasa. Hari ini hari terakahir para santri Ponpes tinggal karena libur panjang telah tiba. Begitupun Fadil yang mendapat nilai bagus di ujian akhir kali ini.
Malam ini tidak ada pelajaran untuk mengaji  Kitab. Malam ini Ia menghabiskan malam dengan bersenda gurau. Segala sesuatu yang meraka bicarakan pasti berbau keagamaan yang berakhir dengan diskusi-diskusi berupa permasalahan agama.  Sungguh indah mempunyai banyak teman yang bisa berbagi cerita.
            Pulang dari masjid mungkin sekitar pukul 20.30 perasaannya tidak enak. Ia seperti mendengar suara ribut lagi di rumahnya. Akhir-akhir ini keluarganya sedang kacau. Ibunya yang tidak mau dioperasi terus dipaksa oleh Ayahnya. Ayahnya yang baru diberhentikan dari pekerjaannya sekarang sedang menganggur. Sedangkan Fadil akan masuk SMA. Inilah yang sebenarnya membuat batinnya tertekan.
            Ketika  membuka pintu rumahnya suara ribut itu semakin terasa datangnya dari dapur yang juga berada dekat dengan kamar orang tuanya. Nurul yang berada  di kamar depan, menangis tersedu. Dilihatnya sang  Adik.
            “ Ada apa lagi?”  Tanyanya sedih.        
“Bagaimana ini?  Ibu keras kepala lagi. Ayah memaksa walau tak punya uang. Ibu memikirkan masa depan kita. Mereka bertengkar apalagi sampai menyebut kata ‘mati.’ Mereka sampai tak memikirkan sekitartnya apa yang akan terjadi besok Kak?” cerita Nurul dengan sedih.
“Sudahlah, ini sudah larut tidurlah jangan menangis, nanti matamu sembab”  pinta Fadil.
“Mereka nggak mikirin kita sekarang. Gak bicara apapun sama kita sekarang. Mereka hanya beradu mulut! Bagaimana ini ?” Adiknya terus mengeluh sedih Fadil terdiam sambil berfikir. Kali ini hati dan otaknya tak terkendali. Ia pergi lalu masuk kamarnya bersiap tidur. Namun tentu tak bisa. Suara berisik yang menyakitkan terus mengejar otaknya. Malam ini ia berfikir keras.
“Aku pergi kasihan Nurul sendiri, ibu nggak  ada yang jaga, aku di sini akan ngerepotin aku juga nggak  kuat lanjutin sekolah tapi pasti butuh uang lagi. Sebenarnya sih aku bisa ke kota aku kan bisa minta beasiswa ke SMAN itu. Mereka, guru-guru itu sudah menjaminku. Aku juga ingin sukses tanpa harus membebani orang tua….”  Ia terus berfikir dan bergeming sampai akhirnya ia tertidur.
Bunyi alarm handphonenya berbunyi. Ia membuka matanya yang masih lengket. Sambil memikirkan apa yang terjadi semalam. Terdengarlah suara adzan subuh. Ia bangun dan keluar dari kamarnya. Ia melihat sang ayah yang masih tertidur di luar. Entah apa yang terjadi semalam sehingga mereka tidak mendengar adzan subuh. Sepertinya Fadil kesal sehingga tak membangunkan semua orang yang ada di rumah. Ia pergi ke masjid, sepanjang jalan tatapannya  kosong. Seperti biasa di masjid sudah banyak santri yang berkumpul sampai Ia tak kebagian syaf depan.
“Maaf, Mas sepertinya Mas sedang pusing ya? Kenapa? Gara-gara ujian untuk menghafal Alquran besok ya? Tenang aja besok kan libur panjang.” Cerocos Abdul temannya di pondok tersebut yang masih 2 tahun lebih muda darinya. Ia hanya terdiam sinis pada Abdul. Abdul bingung melihat kelakuan Fadil tak seperti biasanya.
Sepanjang pagi sampai siang ia hanya termangu di depan masjid sambil melihat teman-temannya bergegas pulang kampumg. Ia melamun sambil  berfikir keras bahkan kedua orang tuanya tak mencarinya. Setiap orang yang lewat menanyainya. Macam-macam pertanyaan yang dilontarkan. Tapi ia hanya terdiam.
Hari berganti hari. Hatinya seperti beku dan mengeras. Hidupnya tak terurus lagi.Orang tuanya sering bertengkar dan selalu menyebut kata anak membuatnya tambah sedih. Mereka tak memperdulikannya. Hari demi hari ia memutuskan untuk melanjutka sekolah di kota dengan beasiswa yang dijanjikan guru-gurunya.
Masa tahun ajaran baru tiba. Fadil telah berada di kos kosannya yang baru ia datangi. Teringat hari kemarin saat ia berpamitan dengan ibu dan ayahnya. Mereka tidak merespon lebih. Hanya berkata ‘’Iya’’. Dan selama liburan ini itu pertama kali ia mencium tangan kedua orang tuanya. Nurul menangis tersedu sedu. Fadil hanya menatap sedih.
Kehidupan barunya termulai saat ini. Dimana ibu dan ayahnya yang tidak peduli telah jauh disana. Dengan uang yang diberi ibunya kemarin entah darimana ia gunakan untuk membayar tempat kosannya itu.
Ia satu kamar dengan Anwar dan Yadi yang ia temukan tadi ketika sama sana mendaftar di SMAN 23 Jakarta.
 “Eh kamu jurusan apa?” Tanya Fadil kepada Anwar.
“Aku jurusan IPS. Kalo musti milih jurusan IPA pusing ga suka aku.” jawab Anwar.
“Kalo aku IPA. Kalo Yadi apa?” Tanya Fadil lagi.
“Aku IPS. Aku dan Anwar berteman sejak kecil.” jawab Yadi.
Pagi harinya awal baru disekolahnya ia bertemu banyak teman. Setelah mengikuti proses MOS, ia telah ditetapkan sebagai siswa SMAN23 Jakarta. Di hatinya masih banyak benak benak sedih, orang tuanya belum juga menjenguk. Hanya Nurul yang mengirim pesan untuk menanyakan kabar kakaknya.
Rasa emosi dihatinya sekarang terwujud di  kehidupannya yang baru. Temannya yang baru membuatnya lupa diri. Pergaulan yang salah mulai mendekat. Terutama ketiga teman akrabnya. Niko, Bobi dan Alfan.
Suatu hari teman teman Fadil mengajaknya pergi bermain kerumah Niko. Mereka mengenalkan hal­-hal negatif pada Fadil berupa obat-obatan terlarang dan minuman keras.
“Oh ya Nik mana orang tuamu?” Tanya Fadil karena melihat rumah Niko yang sepi.
“Ah mereka ga peduliin aku” jawab Niko singkat. Kata itu membuat hati Fadil tersentak. Ia pikir hidup Niko mengingatkannya pada hidupnya yang sama menyedihkan.
“Makanya karena mereka nggak tahu apa yang aku lakuin aku jadi kayak gini. Mereka juga nggak tau aku minum-minuman di rumah sendiri. Mereka sibuk  dengan pekerjaan mereka. Kalau kamu setres dengan hidupmu kamu boleh tiap hari kumpul dengan kami. Kita buat hidup kita senang.’’
Hidup teman-temannya yang berantakan membuat ia terpengaruh. Bobi yang kedua orang tuanya sudah bercerai dan Alfan yang ayahnya telah meninggal sedangkan ibunya bekerja di luar negeri sehingga ia hidup dengan neneknya yang baru beberapa bulan yang lalu meninggal.
Ibu dan ayah Fadil yang tak menjenguk membuatnya jatuh ke lautan dosa yang ada banyak hiu yang siap memangsa kapan saja. Yang ia ingat dari rumahnya sekarang hanyalah Nurul. Tetapi lama Nurul tidak memberi atau menanyakan kabar. Akhirnya ia menjual hand-phonenya hanya untuk senang-senang.
Fadil semakin menjadi, pendidikan yang ia cari tidak ia pergunakan dengan baik. Berkali kali ia di panggil oleh guru dan ancaman pencabutan beasiswa.
Biaya untuk membayar kos bulan depan tidak ada. Uang yang ia dapat dari menjual hp telah habis untuk berfoya-foya. Ia berdiskusi dengan Anwar dan Yudi untuk siapa yang membayar kos dulu. Tetapi karena mereka sama-sama tidak memiliki uang mereka akhirnya memutuskan untuk mengamen.
Kehidupan di jalan  dan naik turun bus membuatnya semakin buruk. Tetapi mereka tak mendapatkan banyak uang. Akhirnya mereka harus pergi dari tempat kos itu.
Fadil memutuskan untuk pergi ke rumah Niko dan memohon untuk diijinkan tinggal di rumah Niko.Tanpa pikir panjang  Niko langsung mengijinkannya. Kehidupan  mereka selalu  diisi dengan hal buruk . Setiap hari berpesta minuman keras di dalam dan di luar rumah.
Fadil menemukan tempat kos baru tapi ia tidak fokus dengan sekolahnya sehingga ia dikeluarkan dari sekolahnya . Diapun mengamen bersama teman –temannya.
Di suatu malam yang terang dengan cahaya bulan, tiba-tiba ia bertemu dengan Nurul sang adik. Hal ini sontak membuatnya terkejut.
“Nurul!  Kenapa kamu di sini?  Kamu kok tahu Kakak  ada di sini ?”  tanya Fadil heran.
“Kakak? Aku rindu Kakak! Kakak gak pernah kasih kabar ke rumah kenapa?  Kakak kok begini?  Kakak?  Kakak?  Kenapa ?“ tanya Nurul dengan disusul tetesan air mata.
“Nurul kenapa kamu bisa di sini ?” tanya fadil lagi .
“Kak sakit ibu sudah membaik tapi Kakak tetep harus jaga ibu. Bantu ayah cari kerja Kakak sekolah yang bener. Emangnya hati nurani Kakak udah hilang, pikiran jernih, perasaan  Kakak mana ? Kakak lupa sama keluarga Kakak . Ayah dan ibu bukannya gak peduli tapi belum peduli mereka masih bingung. Kakak udah lupa sama agama Kakak, Kakak ingat siapa Allah ?  Emangnya Kakak inget teman-teman di sana mereka nggak lupa Kakak ? Lihat temen-temen Kakak ?” Derai air mata Nurul tak terhentikan. Fadil menoleh ke teman-temannya.
              “Bandingin !” suara gertakan itu seketika membuat Fadil kembali menatap Adiknya. Namun ketika Fadil menoleh Nurul sudah tidak ada di tempat. Nurul menghilang. Ia pikir itu hanya halusinasinya semata.
            Menjelang tengah malam seperti biasa mereka membuat pesta. Tanpa di duga terjadi razia di malam itu. Polisi yang datang tiba-tiba  membuat banyak orang tertangkap. Tetapi Tuhan masih menyayangi Fadil. Ia dapat meloloskan diri  karena masuk di sebuah gang kotor. Ia menatap langit dan sekelilingnya. Ia seperti mengaca bagaimana kotornya dirinya.
            Siang harinya ia terbangun di gang tersebut. Ia mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan teman-temannya semalam. Ia pulang ke kos-kosannya dan membersihkan diri. Ia sadar apa yang ia lakukan selama ini salah dan jauh dari dirinya yang dulu. Ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia pulang menggunakan uang hasil mengamennya selama ini.
            Sesampainya di rumah ia mengucapkan salam. Di bukanya pintu ia langsung memanggil nama adiknya.
            “Asalamualaikum! Nurul ….Nurul….Kakak pulang.”
            “Waalaikum salam ! Fadil kamu pulang Nak!” ibunya menjawab salamnya dengan tangisan.
            “Fadil maafin ibu dan ayah  bersikap tidak peduli sama kamu. Maaf nak, ibu cari informasi tentang kamu tapi ibu tidak dapat. Kemana aja kamu nak? Ibu menghubungi nomor kamu juga gak bisa ?” jelas ibu dengan banjir air mata.
            “Maafin  Fadil buk! Selama ini Fadil hidup dalam jurang kehidupan. Tapi kemarin Fadil ketemu Nurul. Kemana Nurul sekarang Bu?” tanya Fadil sambil mencari ke sekeliling ruangan.
            “Maafin kami gara-gara kami gak peduli kalian? “ kata ayahnya dengan pasrah sambil menundukan kepala tak kuasa.
            “Kemarin…….kemarin…baru tujuh harinya adik mu” kata ibu sambil menangis tak terbendungkan.
            Fadil tak berkata apapun. Ia tak habis pikir dengan apa yang terjadi selama ini. Air matanya pecah saat itu juga. Ia tercengang bukan main wajahnya kini  memucat.  Ia menyebut.
Innalillahi wa innailillahi roji’un. Kenapa ?”
            “Dia sakit. Dia juga punya penyakit yang sama seperti ibu tapi ternyata sakit yang dideritanya lebih parah.” Ibu bercerita seraya mendekap Fadil. Fadil benar-benar tak percaya dengan apa yang ia alami saat itu. Ingatnnya melayang-layang ketika ia menghabiskan waktu bersama Adiknya. Ketika bermain, belajar, dan mengaji bersama. Ketika sang Adik yang usil Ia larang untuk menjahili teman-temannya. Ketika Ia marah pada Adiknya, ketika adiknya datang menemuinya dan sampai akhirnya Ia kembali.
            Hari itu, saat itu juga keluarga itu menangis bersama mencoba merelakan dengan apa yang dikehendaki Allah.
            Hari-hari  Fadil tanpa adik  ia lalui di pondok bersama teman-temannya yang pernah Ia tinggalkan. Niatannya untuk sekolah di SMA agar ia sukses menjadi dokter Ia tinggalkan. Ia mengeti sekarang bahwa kedua orang tuanya lah saat ini yang menjadi hal terpenting yang Ia miliki setelah kehilangan adik
            Hari yang ia lalui selama ini telah menjadikan dirinya lebih mengetahui makna kehidupan dari pada teman-temannya. Ia ingin dikehudupannya ke depan ia bisa terus berada di jalan Tuhan yang selama ini telah ia tinggalkan. Demi dirinya, kedua Orang tua dan tentunya adiknya tercinta.


2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar