Jalan Tuhan
Suara adzan yang berkumandang
menggertakan hati setiap insan yang mendengarkannya. Senja yang dapat membuat
suasana tenang bagai deruan angin sejuk yang berhembus setiap hari. Begitupun
makna senja itu sendiri bagi Fadil. Di senja ini, senja yang setiap hari ia
lakukan adalah hal yang sama. Pergi ke masjid juga sebagai pondok pesantren di
desanya yang dekat dengan rumahya. Di setiap hari harinya diselimuti kegiatan
kegiatan keagamaan. Kali ini, disenja ini terasa berbeda bagi Fadil. Angin
sejuk tiba tiba berhembus menerpa wajahnya
ketika ia membuka pintu rumahnya untuk pergi ke masjid. Seketika itu ia
menyebut salah satu kalimat Allah.
‘’Subhannallah!”
katanya lirih.
Remaja yang
akan meninggalkan bangku sekolah menengah pertama itu melanjutkan perjalanannya
pergi ke rumah Allah. Sang ibu yang telah berjalan mendahuluinya, terlihat
begitu renta. Dari belakang dilihatnya punggung sang ibu yang telah mengasuh
Fadil dan adiknya. Ibunya memang seorang yang emosional tetapi disisi lain
ibunya sangat lembut. Belakangan ini ibunya sering sakit-sakitan dan pemarah.
Kata dokter ibunya terkena kanker otak. Itu yang membuat hati Fadil tertekan
belakangan ini. Ayahnya yang sekarang berjalan beriringan dengannya terlihat
begitu banyak pikiran. Namun demikian keluarga ini kental dengan keislamannya karena dilain masih
keturunan kyai juga akrab dengan
suasana pesantren. Penduduk di daerah
ini juga seperti mengikuti peraturan
ponpes yang disiplin tinggi sehingga tidak heran jika masyarakatnya tertib dan
teratur .
Beberapa waktu setelah tiba tepat di pintu
gerbang masjid ia bertemu teman-temannya yang juga mengikuti kegiatan –kegiatan
pondok pesantren itu .
“Hai
Dil, malam ini jangan pulang dulu,
disini bareng temen –temen kita seneng –seneng besok kan kita akan berpisah ,”
ucap Ulil salah satu teman Fadil yang mereka anggap paling nakal.
“Oh pantas
hari ini sepertinya aku rindu teman-teman” jawab Fadil.
“Iya, besok mereka akan pulang kampungkan! Sergah Gibran teman Fadil lainnya.
Tiba-tiba Fadil menatap langit senja yang akan sirna
ditelan kegelapan. Hatinya terasa tenang
saat itu juga. Ia tak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Entah mengapa di
hari ini seperti suatu hari dimana Fadil bisa berfikir secara luas menuju rumah
Allah. Bagaimana kebesaran Allah dengan ini Ia telah tahu esok tak bisa bertemu
temannya lagi seperti biasa. Hari ini hari terakahir para santri Ponpes tinggal
karena libur panjang telah tiba. Begitupun Fadil yang mendapat nilai bagus di
ujian akhir kali ini.
Malam ini tidak ada pelajaran untuk
mengaji Kitab. Malam ini Ia menghabiskan
malam dengan bersenda gurau. Segala sesuatu yang meraka bicarakan pasti berbau
keagamaan yang berakhir dengan diskusi-diskusi berupa permasalahan agama. Sungguh indah mempunyai banyak teman yang
bisa berbagi cerita.
Pulang dari
masjid mungkin sekitar pukul 20.30 perasaannya tidak enak. Ia seperti mendengar
suara ribut lagi di rumahnya. Akhir-akhir ini keluarganya sedang kacau. Ibunya
yang tidak mau dioperasi terus dipaksa oleh Ayahnya. Ayahnya yang baru
diberhentikan dari pekerjaannya sekarang sedang menganggur. Sedangkan Fadil
akan masuk SMA. Inilah yang sebenarnya membuat batinnya tertekan.
Ketika membuka pintu rumahnya suara ribut itu
semakin terasa datangnya dari dapur yang juga berada dekat dengan kamar orang
tuanya. Nurul yang berada di kamar
depan, menangis tersedu. Dilihatnya sang
Adik.
“ Ada apa
lagi?” Tanyanya sedih.
“Bagaimana ini? Ibu keras kepala lagi. Ayah memaksa walau tak
punya uang. Ibu memikirkan masa depan kita. Mereka bertengkar apalagi sampai
menyebut kata ‘mati.’ Mereka sampai tak memikirkan sekitartnya apa yang akan
terjadi besok Kak?” cerita Nurul dengan sedih.
“Sudahlah, ini sudah larut tidurlah
jangan menangis, nanti matamu sembab”
pinta Fadil.
“Mereka nggak mikirin kita sekarang.
Gak bicara apapun sama kita sekarang. Mereka hanya beradu mulut! Bagaimana ini
?” Adiknya terus mengeluh sedih Fadil terdiam sambil berfikir. Kali ini hati
dan otaknya tak terkendali. Ia pergi lalu masuk kamarnya bersiap tidur. Namun
tentu tak bisa. Suara berisik yang menyakitkan terus mengejar otaknya. Malam
ini ia berfikir keras.
“Aku pergi kasihan Nurul sendiri, ibu
nggak ada yang jaga, aku di sini akan
ngerepotin aku juga nggak kuat lanjutin
sekolah tapi pasti butuh uang lagi. Sebenarnya sih aku bisa ke kota aku kan
bisa minta beasiswa ke SMAN itu. Mereka, guru-guru itu sudah menjaminku. Aku
juga ingin sukses tanpa harus membebani orang tua….” Ia terus berfikir dan bergeming sampai
akhirnya ia tertidur.
Bunyi alarm handphonenya berbunyi. Ia
membuka matanya yang masih lengket. Sambil memikirkan apa yang terjadi semalam.
Terdengarlah suara adzan subuh. Ia bangun dan keluar dari kamarnya. Ia melihat
sang ayah yang masih tertidur di luar. Entah apa yang terjadi semalam sehingga mereka
tidak mendengar adzan subuh. Sepertinya Fadil kesal sehingga tak membangunkan
semua orang yang ada di rumah. Ia pergi ke masjid, sepanjang jalan
tatapannya kosong. Seperti biasa di
masjid sudah banyak santri yang berkumpul sampai Ia tak kebagian syaf depan.
“Maaf,
Mas sepertinya Mas sedang pusing ya? Kenapa? Gara-gara ujian untuk menghafal
Alquran besok ya? Tenang aja besok kan libur panjang.” Cerocos Abdul temannya
di pondok tersebut yang masih 2 tahun lebih muda darinya. Ia hanya terdiam
sinis pada Abdul. Abdul bingung melihat kelakuan Fadil tak seperti biasanya.
Sepanjang
pagi sampai siang ia hanya termangu di depan masjid sambil melihat
teman-temannya bergegas pulang kampumg. Ia melamun sambil berfikir keras bahkan kedua orang tuanya tak
mencarinya. Setiap orang yang lewat menanyainya. Macam-macam pertanyaan yang
dilontarkan. Tapi ia hanya terdiam.
Hari berganti hari. Hatinya seperti
beku dan mengeras. Hidupnya tak terurus lagi.Orang tuanya sering bertengkar dan
selalu menyebut kata anak membuatnya tambah sedih. Mereka tak memperdulikannya.
Hari demi hari ia memutuskan untuk melanjutka sekolah di kota dengan beasiswa
yang dijanjikan guru-gurunya.
Masa tahun ajaran baru tiba. Fadil
telah berada di kos kosannya yang baru ia datangi. Teringat hari kemarin saat ia
berpamitan dengan ibu dan ayahnya. Mereka tidak merespon lebih. Hanya berkata
‘’Iya’’. Dan selama liburan ini itu pertama kali ia mencium tangan kedua orang
tuanya. Nurul menangis tersedu sedu. Fadil hanya menatap sedih.
Kehidupan barunya termulai saat ini.
Dimana ibu dan ayahnya yang tidak peduli telah jauh disana. Dengan uang yang
diberi ibunya kemarin entah darimana ia gunakan untuk membayar tempat kosannya
itu.
Ia satu kamar dengan Anwar dan Yadi
yang ia temukan tadi ketika sama sana mendaftar di SMAN 23 Jakarta.
“Eh kamu jurusan apa?” Tanya Fadil kepada
Anwar.
“Aku jurusan IPS. Kalo musti milih
jurusan IPA pusing ga suka aku.” jawab Anwar.
“Kalo aku IPA. Kalo Yadi apa?” Tanya
Fadil lagi.
“Aku IPS. Aku dan Anwar berteman sejak
kecil.” jawab Yadi.
Pagi harinya awal baru disekolahnya ia
bertemu banyak teman. Setelah mengikuti proses MOS, ia telah ditetapkan sebagai
siswa SMAN23 Jakarta. Di hatinya masih banyak benak benak sedih, orang tuanya belum
juga
menjenguk. Hanya Nurul yang mengirim pesan untuk menanyakan kabar kakaknya.
Rasa emosi dihatinya sekarang terwujud
di kehidupannya yang baru. Temannya yang
baru membuatnya lupa diri. Pergaulan yang salah mulai mendekat. Terutama ketiga
teman akrabnya. Niko, Bobi dan Alfan.
Suatu hari teman teman Fadil
mengajaknya pergi bermain kerumah Niko. Mereka mengenalkan hal-hal negatif
pada Fadil berupa obat-obatan terlarang dan minuman keras.
“Oh ya Nik mana orang tuamu?” Tanya
Fadil karena melihat rumah Niko yang sepi.
“Ah mereka ga peduliin aku” jawab Niko
singkat. Kata itu membuat hati Fadil tersentak. Ia pikir hidup Niko mengingatkannya pada hidupnya yang sama menyedihkan.
“Makanya karena mereka nggak tahu apa
yang aku lakuin aku jadi kayak gini. Mereka juga nggak tau aku minum-minuman di
rumah sendiri. Mereka sibuk dengan
pekerjaan mereka. Kalau kamu setres dengan hidupmu kamu boleh tiap hari kumpul
dengan kami. Kita buat hidup kita senang.’’
Hidup teman-temannya yang berantakan
membuat ia terpengaruh. Bobi yang kedua orang tuanya sudah bercerai dan Alfan
yang ayahnya telah meninggal sedangkan ibunya bekerja di luar negeri sehingga
ia hidup dengan neneknya yang baru beberapa bulan yang lalu
meninggal.
Ibu dan ayah Fadil yang tak menjenguk
membuatnya jatuh ke lautan dosa yang ada banyak hiu yang siap memangsa kapan
saja. Yang ia ingat dari rumahnya sekarang hanyalah Nurul.
Tetapi lama Nurul tidak memberi atau menanyakan kabar. Akhirnya ia menjual
hand-phonenya hanya untuk senang-senang.
Fadil semakin menjadi, pendidikan yang
ia cari tidak ia pergunakan dengan baik. Berkali kali ia di panggil oleh guru
dan ancaman pencabutan beasiswa.
Biaya untuk membayar kos bulan depan
tidak ada. Uang yang ia dapat dari menjual hp telah habis untuk berfoya-foya.
Ia berdiskusi dengan Anwar dan Yudi untuk siapa yang membayar kos dulu. Tetapi
karena mereka sama-sama tidak memiliki uang mereka akhirnya memutuskan untuk
mengamen.
Kehidupan di jalan dan naik turun bus membuatnya semakin buruk.
Tetapi mereka tak mendapatkan banyak uang. Akhirnya mereka harus pergi dari
tempat kos itu.
Fadil memutuskan untuk pergi ke rumah
Niko dan memohon untuk diijinkan tinggal di rumah Niko.Tanpa pikir panjang Niko langsung mengijinkannya. Kehidupan mereka selalu
diisi dengan hal buruk . Setiap hari berpesta minuman keras di dalam dan
di luar rumah.
Fadil menemukan tempat kos baru tapi ia
tidak fokus dengan sekolahnya sehingga ia dikeluarkan dari sekolahnya . Diapun
mengamen bersama teman –temannya.
Di suatu malam yang terang dengan cahaya bulan,
tiba-tiba ia bertemu dengan Nurul sang adik. Hal ini sontak membuatnya terkejut.
“Nurul!
Kenapa kamu di sini? Kamu kok
tahu Kakak ada di sini ?” tanya Fadil heran.
“Kakak? Aku rindu Kakak! Kakak gak
pernah kasih kabar ke rumah kenapa?
Kakak kok begini? Kakak? Kakak?
Kenapa ?“ tanya Nurul dengan disusul tetesan air mata.
“Nurul kenapa kamu bisa di sini ?”
tanya fadil lagi .
“Kak sakit ibu sudah membaik tapi Kakak
tetep harus jaga ibu. Bantu ayah cari kerja Kakak sekolah yang bener. Emangnya
hati nurani Kakak udah hilang, pikiran jernih, perasaan Kakak mana ? Kakak lupa sama keluarga Kakak .
Ayah dan ibu bukannya gak peduli tapi belum peduli mereka masih bingung. Kakak
udah lupa sama agama Kakak, Kakak ingat siapa Allah ? Emangnya Kakak inget teman-teman di sana
mereka nggak lupa Kakak ? Lihat temen-temen Kakak ?” Derai air mata Nurul tak terhentikan. Fadil menoleh ke teman-temannya.
“Bandingin !” suara gertakan itu seketika membuat Fadil kembali menatap Adiknya. Namun ketika Fadil menoleh Nurul sudah tidak ada di tempat. Nurul menghilang. Ia
pikir itu hanya halusinasinya semata.
Menjelang tengah malam
seperti biasa
mereka membuat pesta. Tanpa di duga
terjadi razia di malam itu.
Polisi yang datang tiba-tiba membuat
banyak orang tertangkap. Tetapi Tuhan masih menyayangi Fadil. Ia
dapat meloloskan diri karena masuk di
sebuah gang kotor. Ia menatap langit dan sekelilingnya. Ia seperti mengaca
bagaimana kotornya dirinya.
Siang harinya ia
terbangun di gang tersebut. Ia mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan teman-temannya
semalam. Ia pulang ke kos-kosannya dan membersihkan diri. Ia sadar apa yang ia
lakukan selama ini salah dan jauh dari
dirinya yang dulu. Ia memutuskan untuk
kembali ke rumahnya. Ia pulang menggunakan uang hasil mengamennya selama ini.
Sesampainya
di rumah ia mengucapkan salam. Di bukanya pintu ia langsung memanggil nama
adiknya.
“Asalamualaikum!
Nurul ….Nurul….Kakak pulang.”
“Waalaikum salam
! Fadil kamu pulang Nak!” ibunya menjawab salamnya dengan tangisan.
“Fadil maafin
ibu dan ayah bersikap tidak peduli sama
kamu. Maaf nak, ibu cari informasi tentang kamu tapi ibu tidak
dapat. Kemana aja kamu nak? Ibu
menghubungi nomor kamu juga gak
bisa ?” jelas ibu dengan
banjir air mata.
“Maafin Fadil buk! Selama ini Fadil hidup dalam
jurang kehidupan. Tapi kemarin Fadil ketemu Nurul. Kemana Nurul sekarang Bu?” tanya Fadil sambil mencari ke sekeliling ruangan.
“Maafin
kami gara-gara kami gak peduli kalian? “ kata ayahnya dengan pasrah sambil
menundukan kepala tak kuasa.
“Kemarin…….kemarin…baru
tujuh harinya adik mu” kata ibu sambil menangis tak terbendungkan.
Fadil tak
berkata apapun. Ia tak habis
pikir dengan apa yang terjadi selama ini.
Air matanya pecah saat itu juga. Ia tercengang bukan main wajahnya kini memucat.
Ia menyebut.
“Innalillahi
wa innailillahi roji’un.
Kenapa ?”
“Dia sakit. Dia juga punya
penyakit yang sama seperti ibu tapi ternyata sakit yang dideritanya lebih parah.” Ibu bercerita seraya mendekap Fadil. Fadil benar-benar
tak percaya dengan apa yang ia alami saat itu. Ingatnnya melayang-layang ketika
ia menghabiskan waktu bersama Adiknya. Ketika bermain, belajar, dan mengaji
bersama. Ketika sang Adik yang usil Ia larang untuk menjahili teman-temannya.
Ketika Ia marah pada Adiknya, ketika adiknya datang menemuinya dan sampai
akhirnya Ia kembali.
Hari itu, saat itu juga
keluarga itu menangis bersama mencoba merelakan dengan apa yang dikehendaki Allah.
Hari-hari Fadil tanpa adik ia lalui di pondok bersama teman-temannya yang pernah Ia tinggalkan.
Niatannya untuk sekolah di SMA agar ia sukses menjadi dokter Ia tinggalkan. Ia mengeti sekarang bahwa kedua orang tuanya lah saat
ini yang menjadi hal terpenting yang Ia miliki setelah kehilangan adik
Hari yang
ia lalui selama ini telah menjadikan dirinya lebih mengetahui makna kehidupan
dari pada teman-temannya. Ia ingin dikehudupannya ke depan ia bisa terus berada
di jalan Tuhan yang selama ini telah ia tinggalkan. Demi dirinya, kedua Orang tua dan tentunya adiknya
tercinta.
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar