Minggu, 27 September 2020

Masih Tentang Dia

 

Caca tersenyum. Dia menggulir halaman demi halaman layar laptopnya. Lagi, ia tersenyum. Sebuah hal yang sempat Caca lupakan. Ah, mengingat masa itu adalah hal terindah baginya. Ia tak pernah jatuh cinta, belum. Bahkan, saat ia benar-benar mencoba untuk tertarik pada seorang pria dengan mencari gebetan di seantero kampus, dirinya tak menemukan sosok itu. Ingatannya selalu kembali ke tujuh tahun silam. Saat ia adalah gadis lugu tiga belas tahun dengan imajinasi seadanya. Tak tahu apa itu cinta dan jatuh cinta, pun dicintai dan mencintai. Hanya tayangan TV yang kala itu lebih baik dari sekarang. Pikirannya telah terintervensi oleh oppa-oppa Korea. Tapi, apalah daya ketika nafsu terbentur dengan keadaan? Tak seperti fans K-pop yang maniak, dia hanya suka dan pada akhirnya membayangkan segala drama tontonannya beralur di otak. Sampai situ kegilaannya? Sepertinya tidak.

            Suatu ketika Caca bertemu dengan seorang pemuda di jalan saat berangkat sekolah. Tak hanya ketika pulang dan pergi, bahkan setiap dia melewati jalan yang sama sering sosok itu melintas di depan matanya. Kebetulan? Mungkin. Tapi otak dramanya tak mau mengakui hal itu. Dia mengangap itu sebagai takdir. Apalagi, mengingat wajah lelaki itu yang menurut Caca tak jauh beda dengan para oppa tontonannya. Versi lokalnya, begitu. Kalau Caca boleh memilih ‘tipe’ cowok idamannya, dia akan menyebut karakter lelaki itu pasti.

            “Aish, sudah berapa tahun aku mengepost tulisan ini?” gumamnya di depan laptop. Dia sedang membaca curahan hatinya di blog yang ia buat empat tahun lalu. Tak ada tujuan tertentu dirinya membuat blog selain mengenang tulisan-tulisannya tentang lelaki itu. Tentang bagaimana Caca terpesona dengan takdir Tuhan yang membuat hatinya senang. Dia menarasikan segala yang ia rasakan dalam cerita yang mungkin orang lain pikir adalah cerita klise itu, di blog pribadinya. Untung Caca suka menulis dan sedang berkuliah di jurusan sastra, dengan begitu ketika tulisannya terbaca oleh orang yang dikenal, pasti menganggap cerita itu fiksi semata. Benar, pikirnya.

            Caca membaca dalam hati judul-judul yang ada dalam daftar di blognya. Sejauh ini, dia sudah mengepost tigapuluh judul. “Untung pembacanya cuma dikit.” Kata Caca ketika melihat dua digit angka di kolom penayangan.  “Heuh.” Caca membuang napas. Pandangannya beralih ke buku merah tebal di rak buku paling atas dekat almari. Caca tersenyum kemudian berjinjit mengambilnya. Ia membolak-balik halaman demi halaman sambil berbaring di atas kasur. Ingatannya lagi-lagi menjauh dari kota tempat ia tinggal sekarang. Sudah lama sekali Caca tidak bergelut dengan masa lalu. Kegiatan dan tugas kuliahnya merampas perhatian Caca sepenuhnya. Ia berusaha fokus dan lupa pada kesenangannya. Tentang laki-laki itu, apa kabar dia sekarang? 

            Caca menutup buku merah itu dan beranjak. Mengambil ponsel yang ia charge dan duduk di karpet biru samping tempat tidur. Lagi-lagi, senyum tak bisa lepas dari wajah manisnya. Ia membuka akun Facebook dan mengetikkan sebuah nama, “Vandy”.

Sejurus kemudian beberapa akun atas nama Vandy muncul. Caca memilih akun paling atas dan tersenyum lebar. Ah, tujuh tahun lalu mencari namanya adalah hal yang membuat Caca gila. Asal tahu saja, ia baru tahu nama laki-laki yang membuatnya seperti orang gila itu tidak lebih dari satu jam yang lalu. Secara ajaib sebuah akun dengan foto profil yang sangat dikenalnya melintas di timeline Facebook. Sesekali Caca menengok akun Facebook-nya itu untuk sekedar melihat update dari keluarga dan tetangga-tetangganya di desa. Tak sengaja ada wajah yang sudah lama sekali tak ia lihat. Laki-laki itu, oppanya. Mungkin takdir mulai baik padanya dengan memunculkan wajah itu lagi.

            Caca teringat saat dirinya benar-benar penasaran dengan sosok itu. Saat itu dia baru masuk SMA. Caca tidak memilih almamater yang sama dengannya karena dia sekolah di SMA swasta. Caca terus menerus mencari akun Facebook-nya dengan mencari di semua grup angkatan SMA itu. Tapi tak ada tanda-tanda kemunculannya. Sebenarnya Caca pernah tahu namanya saat secara sengaja bertanya pada sepupu jauhnya yang pernah bersekolah di madrasah dekat rumahnya. Dengan berbagai obrolan hingga Caca membawa pertanyaan tentang siapa nama anak dari Pak Ersan—Caca tahu nama ayah laki-laki itu karena nama keluarga mereka santer terkenal sebagai bos material. Meski ternyataa sepupu Caca yang sekolah di madrasah dekat rumah Vandy dan nama orang itu tak ada hubungannya, untung saja sepupunya punya koneksi pengetahuan gosip yang tidak main-main. Dia bercerita jika Pak Ersan punya tiga orang anak laki-laki yang salah satunya sudah menikah. Sepupunya menyebut nama Vandy. Atau Vendy, atau tulisannya memakai F, Caca juga sudah lupa sekarang. Entahlah, yang jelas Caca mencoba mencari dan tetap tak ada. Dia juga pernah search nama Pak Ersan. Bahkan, dia men-search desa tempat mereka tinggal. Ya, mereka satu desa. Tapi lagi-lagi Caca harus menekuk wajahnya.

            Waktu demi waktu berlalu hingga Caca sadar jika laki-laki itu sudah lulus. Tentu saja, dia ingat kali pertama dia melihatnya mengenakan almamaternya ketika Caca kelas dua SMP jadi, di tahun kedua SMAnya dia juga harus kehilangan fantasi konyolnya itu. Imajinasinya kacau menyadari jika laki-laki itu tentu akan berkuliah. Dia anak orang kaya mengingat rumahnya yang besar dan segala yang tampak dari nama keluarganya. Caca tahu itu dan angannya akan segera pupus. 

Tapi, entah kenapa ia masih sering melihat penampakan laki-laki itu wara-wiri di lingkungan mereka. Kadang saat Caca pulang sekolah setelah ekstra hingga hampir petang, dia berjalan dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Malu-malu Caca mencuri pandang sambil mengendarai motor bebeknya. Sepertinya dia membalas tatapan Caca. Tapi entah, Caca tak yakin. Sesekali dia dengan pakaian seadanya lewat depan rumah Caca. Tentu hal itu adalah momen menyenangkan untuknya. Matanya tak lepas dari laki-laki itu sampai motor yang lelaki itu naiki benar-benar tak terlihat lagi.

Pernah suatu hari Caca berjalan pulang dari rumah saudaranya di sebrang jalan. Tiba-tiba saja hatinya bergetar. Dari jauh—benar-benar jauh—terlihat sebuah motor putih melaju dengan pengendara berkaos merah. Caca tak melepaskan pandangannya sambil berdiri di tepi jalan bersiap menyebrang. Pantas dia berdegup, laki-laki yang saat itu tidak diketahui namanya tengah lewat. Lagi saat dia pulang dari toko di sebelah rumahnya, Caca berjalan santai dan seperti kilat ia dikejutkan dengan penampangan dia lewat. Sontak Caca tersenyum senang dan sesaat kemudian, dia tersipu melihat kakak laki-lakinya tengah menyaksikan keanehan Caca. “Hayo, senyumin apaa?” tanyanya saat itu.

Tak hanya itu. Satu hal yang sangat diingat Caca. Lagi-lagi saat ia baru pulang dari rumah saudaranya yang berada di pojok pertigaan jalan. Di belokkan jalan raya ada jalan setapak yang kini sudah dipaving. Seperti biasa dia berjalan kaki karena jarak yang dekat. Dari arah jalan setapak itu dia melihat sebuah pick up berjalan lambat. Caca curiga sekaligus berharap jika itu pick up yang biasa untuk mengangkut material milik keluarga Pak Ersan. Benar saja. Saat dia berhenti untuk menyebrang, pick up itu juga berhenti di sebelahnya. Sosok di sebelah supir—yang artinya disebelahnya—tak sengaja menoleh ke arahnya. Caca reflek membuang muka. Bukan kesal, tapi dia menyembunyikan senyum yang muncul secara tiba-tiba. Apakah benar pria itu? Apakah Caca melihatnya tersenyum kepadanya? Apa Caca tengah halu? Caca tak lekas menyebrang meski jalanan sudah lenggang. Matanya kembali membuntuti kepergian mobil itu hingga hilang ditelan jalan. Ia senang. Sangat senang. 

Dan satu hal yang membuat Caca tak habis pikir, penampakan laki-laki itu tak lagi seperti oppa-oppa lokalnya. Dia seperti mas-mas yang bekerja di toko milik keluarganya itu. Atau jangan-jangan dia memang memilih bekerja di rumahnya. Entah, Caca belum tahu. Bagaimanapun tak ada yang bisa membuatnya tersenyum tak karuan selain menyaksikan drama korea dan laki-laki itu. Sebuah senyum yang secara berani mengusik jiwa Caca. Menimbulkan sensasi yang entah apa namanya. Sensasi yang Caca sendiri sulit untuk rasakan dari hal lain.

Dan bagaimana sekarang dengan ajaib dia menemukan keberadaan laki-laki itu di dunia maya. Ah, takdir. Caca mulai aktivitas teselubungnya. Stalking. Tapi tak banyak yang bisa diketahui Caca dari akun itu. Hanya nama Vandy dan status lajangnya yang belum ia tahu. Lainnya adalah hal umum yang ia tahu. Tentang asal tinggalnya, Caca malah lebih tahu. Entah, yang jelas dia senang bukan kepalang.

***

Hola. Cerpen kali ini bukan dari zaman dulu-dulu kayak sebelumnya ya. Hanya potongan ingatan dari kisah lama yang, sepertinya seru untuk diabadikan. Nah, pas diabadikan stuck di situ-situ aja. Cerita tanpa pembaca.

Kelanjutannya masih ada. Tapi sebatas di ingatan. Jadi, kalau ada waktu nanti kutulis lagi. Hehe. Salam.

31 Januari 2020

Selasa, 18 Desember 2018

Cerpen "Akhir : Cara Terampuh Membayar Rindu", kisah klise tentang kerinduan.

Cerpen ini dibuat berdasarkan kisah saya dan kawan-kawan saya. Selamat membaca. Silakan berkomentar. Terimakasih telah berkunjung.



Akhir : Cara Terampuh Membayar Rindu

Aku berada jauh dari kota kelahiranku. Tempat yang bisa membawaku ke segala lini keberagaman, kesakitan, kepayahan, kesedihan, kepahitan, dan tak lupa bentuk-bentuk kebahagiaan yang masih suatu saat nanti. Kurang tepat menyebut ini sebagai perantauan karena rumahku mampu ditempuh dengan dua jam perjalanan—jika di gunung tidak sedang macet.
            Subuh, Kak Ve menghubungiku. Dia kakak sepupu yang paling dekat denganku. Katanya keluarga kami akan datang kemari setelah melayat ke salah satu kerabat yang meninggal di kota ini. Dan siangnya, kami tengah berkeliling menggunakan mini bus sewaan dari rumah. Senang? Tentu saja. Meski hanya dua jam perjalanan, aku tidak dapat pulang setiap saat. Bayangan lelahnya menunggu angkot dan bus. Lelahnya berkendara naik turun gunung serta ongkos yang sebanding dengan sebuah novel best seller, membuat aku menahan diri. Kerinduanku kalah dengan logika ‘pelit’ku ternyata.
            Sesudah menyantap bekal yang disiapkan ibu dari rumah di alun-alun kota, mereka berpamitan. Aku memasang senyum lebar sebelum mereka pergi seakan mengatakan ‘aku baik-baik saja’ dan tentu aku baik-baik saja.
Setelah bertarung dengan ego, tinggal di sini adalah hal yang sangat aku syukuri. Menyecap bangku perkuliahan dengan ‘sedikit’ menekan orang tua serta memeras banyak keringat dan air mata membuatku menjadi sedikit lebih dewasa. Yah, menahan rindu memang bukan perkara mudah. Tapi demi kelangsungan masa depan, aku bertahan. Paling tidak dari keempat sahabatku—Ame, Aryn, Hani dan Vera—aku bisa menahan rindu.
Sebenarnya rasa rinduku tak seberat dulu saat baru lulus SMA. Bayangkan, kami yang selalunya bersama selama tiga tahun penuh, tiba-tiba saja berpisah. Ame belajar di Pare, Kediri. Aryn kuliah di Malang. Hani sibuk sekali. Dia aktif di kampusnya yang masih berada di kota kami. Meskipun swasta, aku yakin temanku yang satu itu belajar dengan sungguh-sungguh. Vera, meskipun kami sama-sama tidak kuliah tahun lalu, tapi dia selalu sibuk bekerja. Aku akui aku juga terlampau sibuk dengan kerjaku saat itu, tapi Vera jauh lebih sibuk. Tak ada akses komunikasi selain telpon dan pesan saat itu. Aku ingat setahun lalu, hanya tiga kali kami bertemu dan yang dua kali tak lengkap—Hani tak datang.
Sekarang berbeda. Aku berkuliah di sini bersama Ame. Sungguh kebersamaan yang aku yakini diirii oleh ketiga sahabatku yang lain. Selain itu, akses internet dan kecanggihan alat komunikasi membuat kami dengan mudah berkomunikasi. Entah media sosial atau apapun, mudah saja. Tapi lagi-lagi kesibukan masing-masing dari kami menghalangi. Aku lupa kapan terakhir mengirimi pesan di grup chat kami. Padahal dulu—saat aku belum kuliah—aku yang selalu mengobrol sendiri di grup, spam namanya.
Lelah seharian membayar rindu ke keluarga, aku memutuskan menunda mengerjakan tugas malam itu. Lagi. Aku tahu Selasa—besoknya—hari terlelah selama sepekan. Tugas, selalu ada. Tapi entah bagaimana caraku mengerjakan, aku selalu selesai tepat waktu. Rencanaku malam itu hanya tidur dan bermimpi.
***
Gagal. Aku tak mimpi apapun malam itu. Seperti biasa, Selasa pagi disambut dengan mata kuliah Sintaksis. Aku suka Sintaksis dan aku suka dosennya, tak ada yang aneh hari itu. Bahkan, dosen penyuntingan yang jarang hadir, hari itu mengajar dengan baik. Yah, meski tidak mengajar penuh tak apa, toh tugas yang baru kukerjakan pagi hari terkumpul. Lagi pula aku jadi punya waktu lebih bukan untuk mengerjakan tugas jurnalistik.
Aku tiba di kos saat matahari tengah panas-panasnya. Dengan membawa sebungkus bakso sayur, aku buru-buru membuka pintu. Kamarku pengap. Aku malas membuka jendela karena kucing-kucing nakal itu pasti masuk dan mengacaukan kamar. Masih seperti biasanya, setelah berganti baju aku makan bakso sayur sambil menonton Youtube. Belum puas, aku rehat sejenak. Membaringkan tubuh di lantai berkarpet biru sambil menghilangkan malas untuk solat. Saat itu sudah lebih dari jam satu, tapi aku masih berbaring sambil mengotak-atik hape hingga tertidur.
Tepat pukul dua aku terbangun. Setelah memeriksa jam di ponsel dan menyadari dua menit telah melewati jam dua, buru-buru aku mengambil wudhu. Setelahnya, aku kembali santai dan mulai mengerjakan tugas.
Hampir satu jam aku hanya wara-wiri di internet. Mencari referensi tulisan yang sedang aku kerjakan. Akhirnya aku mulai menulis pukul tiga. Satu jam sebelum tugas jurnalistik di kumpulkan. Aku yakin akan selesai, toh selama ini aku memang sering mengerjakan tugas di waktu mepet. Dan itu adalah cara terampuh mengeksploitasi pikiran.
Tulisanku berjalan lancar sampai setengah perjalanan. Aku menghitung waktu lagi. Sepertinya akan pas. Namun, ponselku berdering. Nomor asing. Aku mengamati foto profil sebelum mengangkatnya. Itu Sila, teman SMA-ku. Tidak sedekat keempat sahabatku itu tentunya.
“Halo, Sil. Ada apa?” tanyaku buru-buru. Selain penasaran aku juga ingin segera menyelesaikan tugas selagi ideku lancar saat itu.
“Mal,” panggil Sila lemah.
“Iya ada apa?” ulangku.
“Mal, kamu tahu Hani sekarang dimana?” aku bingung mau menjawab apa. Sila dan Hani sama-sama kuliah di kota kami. Kenapa tanya aku yang jauh di sini? Dari nada suaranya sepertinya Sila baru menangis. Atau, sedang menangis.
“Nggak tahu, Sil. Emang kenapa?” tanyaku lagi.
“Hani, Mal.” Suaranya parau. Kini aku yakin, dia baru menangis dan sedang menangis.
“Kenapa Sil, jangan buat aku cemas, deh.” Suaraku meninggi. Aku tak pedulu dengan tetangga kosku yang tengah menggosip atau apa di sebelah.
“Aku dapat kabar, Mal. Tapi aku masih nggak tahu pastinya.” Tangis Sila pecah. Dia tersedu. Aku masih bingung. Kenapa dengan anak ini? Dan kenapa dengan Hani? Sepertinya baru saja aku melihat Hani memposting sesuatu, tidak mungkin dia kenapa-kenapa.
“Iya, ada apa. Ngomong yang jelas.”
“Hani, Mal. Aku dapat kabar Hani kecelakan.” Suara kecil Sila tiba-tiba berubah serak. Aku malah kesulitan bersuara. “Aku dapat info ada kecelakaan di Jalan Merdeka dan setelah lihat fotonya dia Hani.” Aku masih mendengarkan. Mendengar tangisan Sila yang seperti itu aku tak habis pikir mau berkata apa. “Info yang beredar... dia meninggal.” Ingin sekali saat itu aku teriak. Mengumpat pada Sila. Kenapa dia yang tak pernah menghubungiku tiba-tiba memberi  kabar bohong?
Tanpa mengucapkan kalimat istirja’ aku berkata, “Enggaklah. Itu masih kabar burung. Sudah, kamu tenang dulu. Sekarang lebih baik kita cari tahu kebenarannya. Jangan sebar berita ini dulu, apalagi grup SMA.”
Perbincanganku dengan Sila selanjutnya sebatas pesan di ruang obrolan. Aku menghubungi kenalanku yang mungkin tahu tentang info kecelakaan lalu lintas di sana. Kemungkinan Hani kecelakaan sangat tidak mungkin. Memang Jalan Merdeka adalah jalan Hani ke kampusnya, tapi bagaimanapun, aku menolak kemungkinan itu.
Ame segera kuhubungi saat dia masih di kelas. Aryn masih praktikum katanya dan Vera tentu bekerja. Dia tak memegang ponsel saat bekerja. Sesaat kemudian, satu orang temanku yang berada di sana membenarkan perkataan Sila. Dia memang tidak mengenal Hani. Tapi foto identitas yang dikirimkan kepadaku benar milik Hani. Aku limbung.
Aku menunggu kabar dari Hendro. Untung aku mengenal Hendro ketika ikut kongres di Jogja tempo hari. Aku sempat terkejut mengetahui jika Hendro teman SD Hani. Tiga puluh menit yang lalu Hendro berkata tengah menuju rumah. Mereka tetangga. Aku meminta dia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Masih gelisah aku nekat menelpon Ame.
“Ame, jangan bicara dan cukup dengarkan.” Perintahku saat panggilan kami terhubung. “Barusan Sila nelpon aku. Katanya,” aku menahan napas sejenak. “ katanya Hani kecelakaan.” Tak kuasa, aku menangis. Suara gemerisik di seberang menandakan Ame masih mendengarkan. Aku meneruskan kalimatku dengan terbata. “Setelah ini aku akan kirim sesuatu ke kamu. Plis, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh dulu atau gimana. Yang jelas, kita cari tahu dulu kebenarannya.” Kataku melawan tangis dan kecemasan. “O iya, aku nggak masuk kelas jurnalistik.” Aku memutus panggilan kami.
Sesaat kemudian Aryn memanggil. Bukan telepon biasa tapi video call. Apa-apaan sih anak ini. Aku menolaknya. Dia menelpon lagi. Ini efek setelah aku menyepam tadi. Aku mengirim pesan suara serupa dengan yang kukatakan pada Ame. Setelahnya kukirim foto serupa. Dia tidak percaya. Aku pun demikian. Tapi aku hanya ingin kita sama-sama menghilangkan hoax yang ada di kawan kami. belum sampai kebenaran berita aku kantongi, grup kelas SMA sudah ramai saja. Aku menghalau semua pikiran negatif teman-teman. Tapi mereka seperti rem blong. Sudah merencanakan kapan akan melayat. Aku ingin mengumpat. Apa mereka tidak bisa membaca tulisanku? Tapi lama-kelamaan aku sadar. Bukan mereka yang tidak bisa membaca tulisanku, tapi aku yang tidak bisa membaca tulisan mereka. Semua info yang beredar sudah sangat jelas.
“Halo Assalamualaikum,” kataku saat suara sambungan terhubung. “Bu, aku mau pulang.” Aku yakin ibu sedang terkejut saat ini. Suara parauku pasti membuat ibu khawatir.
“Kapan?” aku tak menjawab. Berpikir, apa yang akan kukatakan pada ibu.
“Bu, aku tadi dapat kabar tapi aku nggak tahu maksudnya.” Kataku sambil menyandarkan diri ke tembok. Ibu menunggu kalimatku, tapi lidahku kelu. “Bu,” aku terisak. “Bu, Hani, Bu...” tak kusangka aku menangis saat itu. Meraung tak karuan seorang diri.
“Hani? Teman SMA kamu itu?” aku menjawab dengan tangis. Aku tahu hal ini membuat ibu khawatir, tapi aku tak bisa mengendalikan diri. Dengan tersedu kuceritakan semuanya sampai suara klakson motor terdengar. Ame masuk bersama Najwa, teman kuliah kami. Aku mencoba tegar dengan semua ini. Sama-sama merutuki teman-teman di grup yang masih membahas kapan akan takziah. Dua diantara mereka sudah menuju rumah duka. Hampir bersamaan, dua temanku itu dan Hendro memberi kabar yang sama. Benar,kabar itu membuat aku dan Ame menangis bersama. Hani sudah pergi.  
***
Aku ingin menyetel musik keras-keras. Kemudian menari-nari sambil berteriak, “Aku baik-baik saja.” Ibu mengijinkanku pulang tadi malam. Vera baru membuka pesanku malam tadi. Dan ajaib, Aryn sudah di sini.
“Lebih dari dua tahun kita nggak bareng-bareng lagi. Sekalinya ketemu, cuma saling ketawa-ketiwi nggak jelas. Ya, dari pertama kita kenal emang kek gini. Ketemu, ketawa, ketemu, ketawa, gitu aja. Kalo enggak, yang saling curhat. Ya ini, ya itu.” Aku tersenyum. Menyaksikan wajah datar Vera, Ame yang sendu, serta Aryn yang tegang, aku mencoba mencairkan suasana.
“Kamu tahu pasti, ada atau nggak ada kamu dulu, kamu selalu jadi tokoh utama.” Aku menunduk, diikuti ketiga temanku. “Perbincangan denganmu dan tentangmu selalu seru. Ada kekesalan yang selalu jadi bumerang cicit tawa.” Aku mengambil napas dalam-dalam. Mencoba berbicara senormal mungkin mencegah keparauan yang mulai muncul.
“Kamu kok baik sih? Kamu paling pinter lagi. Tanpa kamu masa SMA kita bakal garing. Atau mungkin, kita berlima nggak akan kenal. Aku ingat teori-teori kehidupanmu. Kata bapakku... kata ibuku.... Kalimat itu nggak pernah absen dari setiap ceritamu. Kehadiranmu dimasa itu, selalu jadi kenangan.” Pandanganku beralih dari nisan ke kembang mayang yang masih segar.
Teringat tangis ibu Hani saat kami baru masuk rumahnya tadi. Beliau tersedu sambil memeluk kami berempat. Aku tak kuasa mengingat. Beliau tak henti-hentinya meminta maaf atas segala kesalahan Hani. ‘Tenang Bu, anak ibu teman yang baik.’ kataku dalam tangis. Kemudian beliau terduduk di sisi tembok memeluk erat tas dan jaket milik Hani. Aku melihat kedua orang tua yang selalu diceritakan Hani itu pucat. Ya, anak yang baik dengan orang tua yang baik pula.
Lirih ibu Hani berkata. “Jam dua kemarin, Nak.” Aku teringat saat aku terbangun kemarin, tepat pukul dua. Diakah yang membangunkanku? Mengingatkanku untuk jangan lalai dan segera solat. “Ini tas yang dipakai Hani kemarin.” Dengan seksama, aku melihat  jaket yang dipegang ibu Hani. Jaket serupa dengan milikku dan ketiga sahabatku lainnya. Ya, kami membuat sama-sama jaket itu. Sekarang, jaket itu kehilangan pemiliknya.
“Mungkin jarak dan waktu memenggal kita selama ini. Kecemburuanku karena kesibukkanmu mempengaruhi egoku untuk juga sibuk. Menjalani hidup masing-masing dengan masih saling pandang dan mengingat, hingga hari itu tiba.” Kali ini, aku tidak menyuarakan perkataanku. Aku membatinnya sambil terisak menahan tangis. Setelah doa yang dipimpin Ame tadi, terjadi keheningan.
Angin pagi menerpa seakan kesunyian di tempat keramat ini mempersilakan kami kembali. Hari yang mempersatukan jiwa kami dalam keeratan yang tak lagi tampak. Batin yang sebatas angan menjadi kenangan. Bunga-bunga harum menemani. Kenyataan melahap persahabatan. Rindu telah terbayar dengan gundukan tanah merah. Rasanya, masih seperti mimpi.
***
Kamis, 1 November 2018
Rasanya baru kemarin kita saling bertukar impian. Katamu, kamu ingin menjadi guru mengaji saat memutuskan masuk universitas Islam swasta itu. Ah, aku lupa jika kamu yang satu tahun diatasku sudah magang di sekolah dasar. Dan sudah setahun lebih kamu mengajar ngaji di masjid dekat rumahmu itu. Lalu, tentang pria yang pernah kau ceritakan tempo hari, bagaimana? Yang kau tolak saat memutuskan menuntut ilmu dari pada menikah. Dan maaf, aku pernah mencibirmu saat kau mulai menutup seluruh auratmu, wajah cantikmu. Kawan, mimpikah ini?
Setiap hari, aku membayangkan mimpi lampau kita. Berlima membangun sebuah tempat belajar. Ya, semacam sekolah yang kita kelola, mimpi konyol remaja SMA. Berlima. Kau, lupa? Kita punya banyak rencana untuk dilakukan saat kita sama-sama telah dewasa. Ke gunung yang selalu kau ceritakan, kita akan ke sana bukan? Kita. Dan jangan lupa tentang film favoritmu. 5cm. Ya, kamu ingin seperti itu kan? Melalui segala hal dan bertemu di puncak. Apa kamu lupa tentang masa depan yang kita impikan itu? Tentang mengenalkan anak-anak kita kelak dengan manisnya persahabatan. Ini belum saatnya. Belum. Tapi, kenapa takdir yang kau miliki begitu? Seperti mimpi! Janji-janji kita sebatas mimpi.
Ya. Mimpi. Kemarin lusa mimpi. Kemarin juga mimpi. Malam ini mimpi. Besok pun mimpi. Besoknya lagi mimpi. Aku hanya menunggu pagi hingga terbangun. Menunggu waktu hingga kita dipertemukan di puncak kehidupan. Sampai kenangan akan menumpuk menjadi bekal perbincangan masa depan.
Hani, jalanmu sudah benar. Citamu sudah terwujud. Kau punya cinta. Kasih sayang keluarga dan terkasih mu tampak sudah. Doa dari murid-muridmu menemani. Ilmu-ilmumu kan bermanfaat. Orang tuamu bangga kawan.
Kami sayang. Kita tetap kita. Tenang di sana. Salam rindu dari temanmu yang akan selalu rindu.





NB: Cerpen ini saya dedikasikan untuk para sahabat saya. Terutama untuk Hani (bukan nama sebenarnya) yang telah berpulang satu setengah bulan lalu. Tak ada kerinduan lain saat ini selain dia. Terimakasih.






 

Sabtu, 19 Maret 2016

cerpen persahabatan



                            PERTEMUAN PERTAMA DAN PETUALANGAN PERTAMA

            Hujan yang turun rintik-rintik  sangat menyayat hati yang sudah pedih  ini. Seperti dendang lagu haru yang menyelimuti hati. Tiga tahun telah berlalu, namun masalalu itu masih kental mengiang-ngiyang di memori dalam otakku. Tiga tahun itu terasa lambat tanpa dia. Sang kawan yang telah lama menghilang tanpa kabar, dan disini kawan yang lain selalu menunggu dengan harapan yang besar. Masa menuju tiga tahun itu telah dapat kulewati dan jadilah sekarang ini. Dan juga baru saja aku menerima pesan singkat dari dia.
                “Aku Sheila, sibuk gak? Aku pengen ketemu ma kamu! Kalo bisa besok pagi, di belakang SD.” Itu bunyinya.
Aku kaget bukan main  melihat namanya. Nama  yang kunanti terukir di dalam ponselku, segera aku membalas.
                “Ini benar benar kamu, Teman?”
                Diapun membalas.
                “Ya”
                “Ah… kawan…!!!
Oke deh aku akan datang tapi kamu juga HARUS datang! Deal!” balasku lagi.

                                                                                                ^^^^^
                Besoknya…
                Aku tiba terlebih dahulu, Sheila belum datang. Aku paling benci menunggu. Menunggu dengan sangat takut kehilangan. Tiga tahun aku menunggu sekarang harus menjadi akhir dari penantianku. Dengan was was aku melihat sekeliling, dia muncul menggunakan baju berwarna ungu entah apa gambarnya yang kutahu warna itu warna faforit kita berdua selain warna biru dan aku mengenakan baju warna biru itu. Tanpa ada janjian sebelumnya warna faforit kami kami kenakan sekarang.
                Hai” dia menyapaku terlebih dahulu.
                “Hai” sapaku kembali dan kuikuti senyuman bahagia yang tidak bisa kusembunyikan.
                Ah lama banget sih hampir aja aku mau netesin air mata lagi, gara gara menunggu.”
                “Ih jangan donk! Kalo kamu sedih aku juga ikut sedih. Sorry  terlambat aku gak maksud, Ibu nyuruh aku beli bensin dulu, mau pergi tapi keburu-buru  jadi aku deh kena. Apa  lagi antinya lama banget.”  Jelasnya.
                Iya emang sekarang bensin langka.”
                Eh,… ngomong-ngomong gimana sekolah kamu?”  Dia mengalihkan arah pembicaraan kami.
                “Ya gini deh, ada kalanya aku merasa pandai tapi banyak sekali waktu dan situasi yang buat aku merasa bodoh dan benar benar kurang. Itu sih aku kalo kamu?” aku balik melimpahkan pertanyaan padanya.
                “Ya aku bersyukur aja dapat sekolah yang ga sebagus sekolah kamu, jadi aku masih bisa dapat ranking. Tapi kalau aja aku sekolah disekolahan kamu pasti biasa juga kayak kamu.” Dia selalu begitu dari dulu tidak berubah. Selalu merendahkan hati padaku.
                “Eh jalan yuk, ga enak banget cerita dibelakang sekolah gini, kayak lagi ngumpet. Jadi inget dulu waktu SD, selalu tempat ini.”
                “Iya sih” balasnya.
                Gimana kalo kita ke pasar raya sana, mumpung ada kan jarang jarang.”ajakku.
                “Oke, kalau begitu ayo nanti keburukesiangan. Tapi bukannya itu cukup jauh?” pasar raya memang jauh letaknya.
                Iya sih tapi kita kan berdua, terus kita kan mau cerita cerita ga papa nanti juga nyampenya cepet.”
                Dengan santai kami berjalan sambil bercerita. Kisah kisah kami yang selama ini terjadi tanpa satu sama lain kini seperti kembali dan kami sama sama terbawa cerita masing masing. Juga kami membahas masa masa kita ketika masih mengenakan seragam merah putih. Betapa lugunya kami dulu, begitupun sekarang kami tetap lugu.
                Tanpa kami duga ditengah perjalanan kami, hujan yang tadinya turun hanyalah butiran kecil, kini berubah menjelma butiran butiran besar yang membasahi tubuh kami. Awalnya kami hanya berteduh dipohon namun di belakang pohon besar tersebut  ada gubuk yang dapat kami singgahi dari pada pohon ini. Walaupun tempatnya agak jauh kami pergi ke tempat itu. Kami berteduh sambil meneruskan cerita kami yang  sempat terputus sampai hujan reda.
                Tapi ada satu yang mengganjal sedari tadi truk truk yang terus menerus  menghampiri sebuah gudang yang lumayan jauh dari gubuk. Karena memang truk truk itu terasa sangat mencurigakan, kami sepakat untuk menghampiri gudang tersebut. Kami masuk dan apa yang terjadi?.
                “Astaghfirullah Sheila! Apa itu? Benarkah tong tong itu berisi bensin? Tanyaku dengan terkejut karena melihat tumpukan tong tong berisi cairan yang aromanya menyerupai bensin.
                “Wah jadi ini yang selama ini membuat bensin langka dan harganya melambung! Ini benar benar keterlaluan. Apa yang harus kita lakukan?” Sheila berbalik menatapku.
                “Ayo masuk kita cek apa itu benar benar bensin atau hanya air biasa.” Ajakku.
                “Ah itu benar ini bensin lihat saja warnanya apalagi baunya. Tapi nggak ah, ini berbahaya nanti kalau ketahuan bagaimana?” Sheila ketakutan.
                “Udahlah ga apa apa, gak akan ketahuan lagian ini gak bisa dibiarin!” tukasku.
                Emh.. iya deh.” Jawabnya pasrah.
                Kami mengendap endap dengan hati hati jangan sampai terlihat oleh orang orang yang bekerja itu. Kucium baunya lebih teliti dan ternyata dugaan kami benar berdrum drum bensin tersimpan di gudang itu.
                Ketika kami menuju gudang itu ada seekor kucing hitam yang tertidur dan menakutkan. Kami mencoba tetap diam walau hanya di depan kucing namun karena kecerobohan kami kucing itu terusik tidurnya dan mengeong. Para pekerja yang mendengar ngeongan mengerikan itu menemui sang kucing. Syukurnya kami berhasil sembunyi. Namun takdir berkata lain bagaimanapun cara kami mengendap endap dan bersembunyi ada seorang pekerja yang mengetahui keberadaan kami. Kami berlari  ketakutan. Tiga dari banyak orang itu berlari mengejar kami. Mungkin  takut kalau kalau kami membocorkan hal buruk ini. Dan pekerja yang lainnya meneruskan pekerjaan kotor itu dengan cepat dan cemas.
                Kami tetap berlari sampai menemukan rumah kosong tak berpenghuni yang berada di sekitar dari gudang itu. Kami menerobos seluruh ruangan di rumah itu. Entah barang apa saja  yang kami temui kami lempar menuju orang orang itu. Semua hal telah kami coba lakukan untuk menghindar dan menghalangi mereka. Tetapi orang
                Akhirnya sampailah kami dipenghujung pengejaran. Kami keluar melewati pintu belakang. Namun bukannya selesai kami malah semakin dekat saja. Kami kehabisan akal, satu satunya cara kami harus berpencar. Biar mereka mengejarku dan Sheila harus bisa lari yanpa sepengetahuan mereka dan bisa mencari bantuan bahkan polisi. Aku menarik perhatian mereka dan berlari lain arah dengan Sheila. Tepat, tiga orang itu hanya mengejarku. Aku terus berlari sampai akhirnya aku menemui sungai aku takut harus berbuat apa. Tak tahu harus kemana lagi untuk menghindari mereka. Tapi Tuhan selalu saja menyelamatkan hambanya yang membutuhkan. Sheila datang membawa orang orang dewasa yang baik untuk menolong. Akhirnya mereka bertiga dipaksa untuk menunjukan tempat mereka menyimpan bensin bensin illegal itu. Dan karena kegesitan Sheila ternyata di tempat itu sudah berada polisi polisi yang siap meringkus para penjahat.
                Alhamdullilah” desahku.
                “Ah sudah selesai rupanya” lanjut Sheila
                “Inilah perjalanan kita, kufikir aku bisa mengajakmu jalan jalan dan bersenang senang. Tapi nyatanya kita malah hampir celaka.”
                “Nggak, ini good experience, karena hari ini masalah ini terkuak dan kita mempunyai perjalanan yang lebih seru dan berarti di pertemuan kita ini jujur ini petualangan pertamaku.”
                “Aku juga” tukasku.

2012

cerpen religi kaya pesan moral



Jalan Tuhan
Suara adzan yang berkumandang menggertakan hati setiap insan yang mendengarkannya. Senja yang dapat membuat suasana tenang bagai deruan angin sejuk yang berhembus setiap hari. Begitupun makna senja itu sendiri bagi Fadil. Di senja ini, senja yang setiap hari ia lakukan adalah hal yang sama. Pergi ke masjid juga sebagai pondok pesantren di desanya yang dekat dengan rumahya. Di setiap hari harinya diselimuti kegiatan kegiatan keagamaan. Kali ini, disenja ini terasa berbeda bagi Fadil. Angin sejuk tiba tiba berhembus menerpa wajahnya  ketika ia membuka pintu rumahnya untuk pergi ke masjid. Seketika itu ia menyebut salah satu kalimat Allah.
            ‘’Subhannallah!” katanya lirih.
            Remaja yang akan meninggalkan bangku sekolah menengah pertama itu melanjutkan perjalanannya pergi ke rumah Allah. Sang ibu yang telah berjalan mendahuluinya, terlihat begitu renta. Dari belakang dilihatnya punggung sang ibu yang telah mengasuh Fadil dan adiknya. Ibunya memang seorang yang emosional tetapi disisi lain ibunya sangat lembut. Belakangan ini ibunya sering sakit-sakitan dan pemarah. Kata dokter ibunya terkena kanker otak. Itu yang membuat hati Fadil tertekan belakangan ini. Ayahnya yang sekarang berjalan beriringan dengannya terlihat begitu banyak pikiran. Namun demikian keluarga ini kental dengan keislamannya karena dilain masih keturunan kyai juga akrab dengan suasana pesantren. Penduduk di daerah ini juga  seperti mengikuti peraturan ponpes yang disiplin tinggi sehingga tidak heran jika masyarakatnya tertib dan teratur .
           Beberapa waktu setelah tiba tepat di pintu gerbang masjid ia bertemu teman-temannya yang juga mengikuti kegiatan –kegiatan pondok pesantren itu .
            “Hai Dil,  malam ini jangan pulang dulu, disini bareng temen –temen kita seneng –seneng besok kan kita akan berpisah ,” ucap Ulil salah satu teman Fadil yang mereka anggap paling nakal.
            “Oh pantas hari ini sepertinya aku rindu teman-teman” jawab Fadil.
            “Iya,  besok mereka akan pulang kampungkan!  Sergah Gibran teman Fadil lainnya.
            Tiba-tiba  Fadil menatap langit senja yang akan sirna ditelan kegelapan.  Hatinya terasa tenang saat itu juga. Ia tak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Entah mengapa di hari ini seperti suatu hari dimana Fadil bisa berfikir secara luas menuju rumah Allah. Bagaimana kebesaran Allah dengan ini Ia telah tahu esok tak bisa bertemu temannya lagi seperti biasa. Hari ini hari terakahir para santri Ponpes tinggal karena libur panjang telah tiba. Begitupun Fadil yang mendapat nilai bagus di ujian akhir kali ini.
Malam ini tidak ada pelajaran untuk mengaji  Kitab. Malam ini Ia menghabiskan malam dengan bersenda gurau. Segala sesuatu yang meraka bicarakan pasti berbau keagamaan yang berakhir dengan diskusi-diskusi berupa permasalahan agama.  Sungguh indah mempunyai banyak teman yang bisa berbagi cerita.
            Pulang dari masjid mungkin sekitar pukul 20.30 perasaannya tidak enak. Ia seperti mendengar suara ribut lagi di rumahnya. Akhir-akhir ini keluarganya sedang kacau. Ibunya yang tidak mau dioperasi terus dipaksa oleh Ayahnya. Ayahnya yang baru diberhentikan dari pekerjaannya sekarang sedang menganggur. Sedangkan Fadil akan masuk SMA. Inilah yang sebenarnya membuat batinnya tertekan.
            Ketika  membuka pintu rumahnya suara ribut itu semakin terasa datangnya dari dapur yang juga berada dekat dengan kamar orang tuanya. Nurul yang berada  di kamar depan, menangis tersedu. Dilihatnya sang  Adik.
            “ Ada apa lagi?”  Tanyanya sedih.        
“Bagaimana ini?  Ibu keras kepala lagi. Ayah memaksa walau tak punya uang. Ibu memikirkan masa depan kita. Mereka bertengkar apalagi sampai menyebut kata ‘mati.’ Mereka sampai tak memikirkan sekitartnya apa yang akan terjadi besok Kak?” cerita Nurul dengan sedih.
“Sudahlah, ini sudah larut tidurlah jangan menangis, nanti matamu sembab”  pinta Fadil.
“Mereka nggak mikirin kita sekarang. Gak bicara apapun sama kita sekarang. Mereka hanya beradu mulut! Bagaimana ini ?” Adiknya terus mengeluh sedih Fadil terdiam sambil berfikir. Kali ini hati dan otaknya tak terkendali. Ia pergi lalu masuk kamarnya bersiap tidur. Namun tentu tak bisa. Suara berisik yang menyakitkan terus mengejar otaknya. Malam ini ia berfikir keras.
“Aku pergi kasihan Nurul sendiri, ibu nggak  ada yang jaga, aku di sini akan ngerepotin aku juga nggak  kuat lanjutin sekolah tapi pasti butuh uang lagi. Sebenarnya sih aku bisa ke kota aku kan bisa minta beasiswa ke SMAN itu. Mereka, guru-guru itu sudah menjaminku. Aku juga ingin sukses tanpa harus membebani orang tua….”  Ia terus berfikir dan bergeming sampai akhirnya ia tertidur.
Bunyi alarm handphonenya berbunyi. Ia membuka matanya yang masih lengket. Sambil memikirkan apa yang terjadi semalam. Terdengarlah suara adzan subuh. Ia bangun dan keluar dari kamarnya. Ia melihat sang ayah yang masih tertidur di luar. Entah apa yang terjadi semalam sehingga mereka tidak mendengar adzan subuh. Sepertinya Fadil kesal sehingga tak membangunkan semua orang yang ada di rumah. Ia pergi ke masjid, sepanjang jalan tatapannya  kosong. Seperti biasa di masjid sudah banyak santri yang berkumpul sampai Ia tak kebagian syaf depan.
“Maaf, Mas sepertinya Mas sedang pusing ya? Kenapa? Gara-gara ujian untuk menghafal Alquran besok ya? Tenang aja besok kan libur panjang.” Cerocos Abdul temannya di pondok tersebut yang masih 2 tahun lebih muda darinya. Ia hanya terdiam sinis pada Abdul. Abdul bingung melihat kelakuan Fadil tak seperti biasanya.
Sepanjang pagi sampai siang ia hanya termangu di depan masjid sambil melihat teman-temannya bergegas pulang kampumg. Ia melamun sambil  berfikir keras bahkan kedua orang tuanya tak mencarinya. Setiap orang yang lewat menanyainya. Macam-macam pertanyaan yang dilontarkan. Tapi ia hanya terdiam.
Hari berganti hari. Hatinya seperti beku dan mengeras. Hidupnya tak terurus lagi.Orang tuanya sering bertengkar dan selalu menyebut kata anak membuatnya tambah sedih. Mereka tak memperdulikannya. Hari demi hari ia memutuskan untuk melanjutka sekolah di kota dengan beasiswa yang dijanjikan guru-gurunya.
Masa tahun ajaran baru tiba. Fadil telah berada di kos kosannya yang baru ia datangi. Teringat hari kemarin saat ia berpamitan dengan ibu dan ayahnya. Mereka tidak merespon lebih. Hanya berkata ‘’Iya’’. Dan selama liburan ini itu pertama kali ia mencium tangan kedua orang tuanya. Nurul menangis tersedu sedu. Fadil hanya menatap sedih.
Kehidupan barunya termulai saat ini. Dimana ibu dan ayahnya yang tidak peduli telah jauh disana. Dengan uang yang diberi ibunya kemarin entah darimana ia gunakan untuk membayar tempat kosannya itu.
Ia satu kamar dengan Anwar dan Yadi yang ia temukan tadi ketika sama sana mendaftar di SMAN 23 Jakarta.
 “Eh kamu jurusan apa?” Tanya Fadil kepada Anwar.
“Aku jurusan IPS. Kalo musti milih jurusan IPA pusing ga suka aku.” jawab Anwar.
“Kalo aku IPA. Kalo Yadi apa?” Tanya Fadil lagi.
“Aku IPS. Aku dan Anwar berteman sejak kecil.” jawab Yadi.
Pagi harinya awal baru disekolahnya ia bertemu banyak teman. Setelah mengikuti proses MOS, ia telah ditetapkan sebagai siswa SMAN23 Jakarta. Di hatinya masih banyak benak benak sedih, orang tuanya belum juga menjenguk. Hanya Nurul yang mengirim pesan untuk menanyakan kabar kakaknya.
Rasa emosi dihatinya sekarang terwujud di  kehidupannya yang baru. Temannya yang baru membuatnya lupa diri. Pergaulan yang salah mulai mendekat. Terutama ketiga teman akrabnya. Niko, Bobi dan Alfan.
Suatu hari teman teman Fadil mengajaknya pergi bermain kerumah Niko. Mereka mengenalkan hal­-hal negatif pada Fadil berupa obat-obatan terlarang dan minuman keras.
“Oh ya Nik mana orang tuamu?” Tanya Fadil karena melihat rumah Niko yang sepi.
“Ah mereka ga peduliin aku” jawab Niko singkat. Kata itu membuat hati Fadil tersentak. Ia pikir hidup Niko mengingatkannya pada hidupnya yang sama menyedihkan.
“Makanya karena mereka nggak tahu apa yang aku lakuin aku jadi kayak gini. Mereka juga nggak tau aku minum-minuman di rumah sendiri. Mereka sibuk  dengan pekerjaan mereka. Kalau kamu setres dengan hidupmu kamu boleh tiap hari kumpul dengan kami. Kita buat hidup kita senang.’’
Hidup teman-temannya yang berantakan membuat ia terpengaruh. Bobi yang kedua orang tuanya sudah bercerai dan Alfan yang ayahnya telah meninggal sedangkan ibunya bekerja di luar negeri sehingga ia hidup dengan neneknya yang baru beberapa bulan yang lalu meninggal.
Ibu dan ayah Fadil yang tak menjenguk membuatnya jatuh ke lautan dosa yang ada banyak hiu yang siap memangsa kapan saja. Yang ia ingat dari rumahnya sekarang hanyalah Nurul. Tetapi lama Nurul tidak memberi atau menanyakan kabar. Akhirnya ia menjual hand-phonenya hanya untuk senang-senang.
Fadil semakin menjadi, pendidikan yang ia cari tidak ia pergunakan dengan baik. Berkali kali ia di panggil oleh guru dan ancaman pencabutan beasiswa.
Biaya untuk membayar kos bulan depan tidak ada. Uang yang ia dapat dari menjual hp telah habis untuk berfoya-foya. Ia berdiskusi dengan Anwar dan Yudi untuk siapa yang membayar kos dulu. Tetapi karena mereka sama-sama tidak memiliki uang mereka akhirnya memutuskan untuk mengamen.
Kehidupan di jalan  dan naik turun bus membuatnya semakin buruk. Tetapi mereka tak mendapatkan banyak uang. Akhirnya mereka harus pergi dari tempat kos itu.
Fadil memutuskan untuk pergi ke rumah Niko dan memohon untuk diijinkan tinggal di rumah Niko.Tanpa pikir panjang  Niko langsung mengijinkannya. Kehidupan  mereka selalu  diisi dengan hal buruk . Setiap hari berpesta minuman keras di dalam dan di luar rumah.
Fadil menemukan tempat kos baru tapi ia tidak fokus dengan sekolahnya sehingga ia dikeluarkan dari sekolahnya . Diapun mengamen bersama teman –temannya.
Di suatu malam yang terang dengan cahaya bulan, tiba-tiba ia bertemu dengan Nurul sang adik. Hal ini sontak membuatnya terkejut.
“Nurul!  Kenapa kamu di sini?  Kamu kok tahu Kakak  ada di sini ?”  tanya Fadil heran.
“Kakak? Aku rindu Kakak! Kakak gak pernah kasih kabar ke rumah kenapa?  Kakak kok begini?  Kakak?  Kakak?  Kenapa ?“ tanya Nurul dengan disusul tetesan air mata.
“Nurul kenapa kamu bisa di sini ?” tanya fadil lagi .
“Kak sakit ibu sudah membaik tapi Kakak tetep harus jaga ibu. Bantu ayah cari kerja Kakak sekolah yang bener. Emangnya hati nurani Kakak udah hilang, pikiran jernih, perasaan  Kakak mana ? Kakak lupa sama keluarga Kakak . Ayah dan ibu bukannya gak peduli tapi belum peduli mereka masih bingung. Kakak udah lupa sama agama Kakak, Kakak ingat siapa Allah ?  Emangnya Kakak inget teman-teman di sana mereka nggak lupa Kakak ? Lihat temen-temen Kakak ?” Derai air mata Nurul tak terhentikan. Fadil menoleh ke teman-temannya.
              “Bandingin !” suara gertakan itu seketika membuat Fadil kembali menatap Adiknya. Namun ketika Fadil menoleh Nurul sudah tidak ada di tempat. Nurul menghilang. Ia pikir itu hanya halusinasinya semata.
            Menjelang tengah malam seperti biasa mereka membuat pesta. Tanpa di duga terjadi razia di malam itu. Polisi yang datang tiba-tiba  membuat banyak orang tertangkap. Tetapi Tuhan masih menyayangi Fadil. Ia dapat meloloskan diri  karena masuk di sebuah gang kotor. Ia menatap langit dan sekelilingnya. Ia seperti mengaca bagaimana kotornya dirinya.
            Siang harinya ia terbangun di gang tersebut. Ia mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan teman-temannya semalam. Ia pulang ke kos-kosannya dan membersihkan diri. Ia sadar apa yang ia lakukan selama ini salah dan jauh dari dirinya yang dulu. Ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia pulang menggunakan uang hasil mengamennya selama ini.
            Sesampainya di rumah ia mengucapkan salam. Di bukanya pintu ia langsung memanggil nama adiknya.
            “Asalamualaikum! Nurul ….Nurul….Kakak pulang.”
            “Waalaikum salam ! Fadil kamu pulang Nak!” ibunya menjawab salamnya dengan tangisan.
            “Fadil maafin ibu dan ayah  bersikap tidak peduli sama kamu. Maaf nak, ibu cari informasi tentang kamu tapi ibu tidak dapat. Kemana aja kamu nak? Ibu menghubungi nomor kamu juga gak bisa ?” jelas ibu dengan banjir air mata.
            “Maafin  Fadil buk! Selama ini Fadil hidup dalam jurang kehidupan. Tapi kemarin Fadil ketemu Nurul. Kemana Nurul sekarang Bu?” tanya Fadil sambil mencari ke sekeliling ruangan.
            “Maafin kami gara-gara kami gak peduli kalian? “ kata ayahnya dengan pasrah sambil menundukan kepala tak kuasa.
            “Kemarin…….kemarin…baru tujuh harinya adik mu” kata ibu sambil menangis tak terbendungkan.
            Fadil tak berkata apapun. Ia tak habis pikir dengan apa yang terjadi selama ini. Air matanya pecah saat itu juga. Ia tercengang bukan main wajahnya kini  memucat.  Ia menyebut.
Innalillahi wa innailillahi roji’un. Kenapa ?”
            “Dia sakit. Dia juga punya penyakit yang sama seperti ibu tapi ternyata sakit yang dideritanya lebih parah.” Ibu bercerita seraya mendekap Fadil. Fadil benar-benar tak percaya dengan apa yang ia alami saat itu. Ingatnnya melayang-layang ketika ia menghabiskan waktu bersama Adiknya. Ketika bermain, belajar, dan mengaji bersama. Ketika sang Adik yang usil Ia larang untuk menjahili teman-temannya. Ketika Ia marah pada Adiknya, ketika adiknya datang menemuinya dan sampai akhirnya Ia kembali.
            Hari itu, saat itu juga keluarga itu menangis bersama mencoba merelakan dengan apa yang dikehendaki Allah.
            Hari-hari  Fadil tanpa adik  ia lalui di pondok bersama teman-temannya yang pernah Ia tinggalkan. Niatannya untuk sekolah di SMA agar ia sukses menjadi dokter Ia tinggalkan. Ia mengeti sekarang bahwa kedua orang tuanya lah saat ini yang menjadi hal terpenting yang Ia miliki setelah kehilangan adik
            Hari yang ia lalui selama ini telah menjadikan dirinya lebih mengetahui makna kehidupan dari pada teman-temannya. Ia ingin dikehudupannya ke depan ia bisa terus berada di jalan Tuhan yang selama ini telah ia tinggalkan. Demi dirinya, kedua Orang tua dan tentunya adiknya tercinta.


2013