Minggu, 27 September 2020

Masih Tentang Dia

 

Caca tersenyum. Dia menggulir halaman demi halaman layar laptopnya. Lagi, ia tersenyum. Sebuah hal yang sempat Caca lupakan. Ah, mengingat masa itu adalah hal terindah baginya. Ia tak pernah jatuh cinta, belum. Bahkan, saat ia benar-benar mencoba untuk tertarik pada seorang pria dengan mencari gebetan di seantero kampus, dirinya tak menemukan sosok itu. Ingatannya selalu kembali ke tujuh tahun silam. Saat ia adalah gadis lugu tiga belas tahun dengan imajinasi seadanya. Tak tahu apa itu cinta dan jatuh cinta, pun dicintai dan mencintai. Hanya tayangan TV yang kala itu lebih baik dari sekarang. Pikirannya telah terintervensi oleh oppa-oppa Korea. Tapi, apalah daya ketika nafsu terbentur dengan keadaan? Tak seperti fans K-pop yang maniak, dia hanya suka dan pada akhirnya membayangkan segala drama tontonannya beralur di otak. Sampai situ kegilaannya? Sepertinya tidak.

            Suatu ketika Caca bertemu dengan seorang pemuda di jalan saat berangkat sekolah. Tak hanya ketika pulang dan pergi, bahkan setiap dia melewati jalan yang sama sering sosok itu melintas di depan matanya. Kebetulan? Mungkin. Tapi otak dramanya tak mau mengakui hal itu. Dia mengangap itu sebagai takdir. Apalagi, mengingat wajah lelaki itu yang menurut Caca tak jauh beda dengan para oppa tontonannya. Versi lokalnya, begitu. Kalau Caca boleh memilih ‘tipe’ cowok idamannya, dia akan menyebut karakter lelaki itu pasti.

            “Aish, sudah berapa tahun aku mengepost tulisan ini?” gumamnya di depan laptop. Dia sedang membaca curahan hatinya di blog yang ia buat empat tahun lalu. Tak ada tujuan tertentu dirinya membuat blog selain mengenang tulisan-tulisannya tentang lelaki itu. Tentang bagaimana Caca terpesona dengan takdir Tuhan yang membuat hatinya senang. Dia menarasikan segala yang ia rasakan dalam cerita yang mungkin orang lain pikir adalah cerita klise itu, di blog pribadinya. Untung Caca suka menulis dan sedang berkuliah di jurusan sastra, dengan begitu ketika tulisannya terbaca oleh orang yang dikenal, pasti menganggap cerita itu fiksi semata. Benar, pikirnya.

            Caca membaca dalam hati judul-judul yang ada dalam daftar di blognya. Sejauh ini, dia sudah mengepost tigapuluh judul. “Untung pembacanya cuma dikit.” Kata Caca ketika melihat dua digit angka di kolom penayangan.  “Heuh.” Caca membuang napas. Pandangannya beralih ke buku merah tebal di rak buku paling atas dekat almari. Caca tersenyum kemudian berjinjit mengambilnya. Ia membolak-balik halaman demi halaman sambil berbaring di atas kasur. Ingatannya lagi-lagi menjauh dari kota tempat ia tinggal sekarang. Sudah lama sekali Caca tidak bergelut dengan masa lalu. Kegiatan dan tugas kuliahnya merampas perhatian Caca sepenuhnya. Ia berusaha fokus dan lupa pada kesenangannya. Tentang laki-laki itu, apa kabar dia sekarang? 

            Caca menutup buku merah itu dan beranjak. Mengambil ponsel yang ia charge dan duduk di karpet biru samping tempat tidur. Lagi-lagi, senyum tak bisa lepas dari wajah manisnya. Ia membuka akun Facebook dan mengetikkan sebuah nama, “Vandy”.

Sejurus kemudian beberapa akun atas nama Vandy muncul. Caca memilih akun paling atas dan tersenyum lebar. Ah, tujuh tahun lalu mencari namanya adalah hal yang membuat Caca gila. Asal tahu saja, ia baru tahu nama laki-laki yang membuatnya seperti orang gila itu tidak lebih dari satu jam yang lalu. Secara ajaib sebuah akun dengan foto profil yang sangat dikenalnya melintas di timeline Facebook. Sesekali Caca menengok akun Facebook-nya itu untuk sekedar melihat update dari keluarga dan tetangga-tetangganya di desa. Tak sengaja ada wajah yang sudah lama sekali tak ia lihat. Laki-laki itu, oppanya. Mungkin takdir mulai baik padanya dengan memunculkan wajah itu lagi.

            Caca teringat saat dirinya benar-benar penasaran dengan sosok itu. Saat itu dia baru masuk SMA. Caca tidak memilih almamater yang sama dengannya karena dia sekolah di SMA swasta. Caca terus menerus mencari akun Facebook-nya dengan mencari di semua grup angkatan SMA itu. Tapi tak ada tanda-tanda kemunculannya. Sebenarnya Caca pernah tahu namanya saat secara sengaja bertanya pada sepupu jauhnya yang pernah bersekolah di madrasah dekat rumahnya. Dengan berbagai obrolan hingga Caca membawa pertanyaan tentang siapa nama anak dari Pak Ersan—Caca tahu nama ayah laki-laki itu karena nama keluarga mereka santer terkenal sebagai bos material. Meski ternyataa sepupu Caca yang sekolah di madrasah dekat rumah Vandy dan nama orang itu tak ada hubungannya, untung saja sepupunya punya koneksi pengetahuan gosip yang tidak main-main. Dia bercerita jika Pak Ersan punya tiga orang anak laki-laki yang salah satunya sudah menikah. Sepupunya menyebut nama Vandy. Atau Vendy, atau tulisannya memakai F, Caca juga sudah lupa sekarang. Entahlah, yang jelas Caca mencoba mencari dan tetap tak ada. Dia juga pernah search nama Pak Ersan. Bahkan, dia men-search desa tempat mereka tinggal. Ya, mereka satu desa. Tapi lagi-lagi Caca harus menekuk wajahnya.

            Waktu demi waktu berlalu hingga Caca sadar jika laki-laki itu sudah lulus. Tentu saja, dia ingat kali pertama dia melihatnya mengenakan almamaternya ketika Caca kelas dua SMP jadi, di tahun kedua SMAnya dia juga harus kehilangan fantasi konyolnya itu. Imajinasinya kacau menyadari jika laki-laki itu tentu akan berkuliah. Dia anak orang kaya mengingat rumahnya yang besar dan segala yang tampak dari nama keluarganya. Caca tahu itu dan angannya akan segera pupus. 

Tapi, entah kenapa ia masih sering melihat penampakan laki-laki itu wara-wiri di lingkungan mereka. Kadang saat Caca pulang sekolah setelah ekstra hingga hampir petang, dia berjalan dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Malu-malu Caca mencuri pandang sambil mengendarai motor bebeknya. Sepertinya dia membalas tatapan Caca. Tapi entah, Caca tak yakin. Sesekali dia dengan pakaian seadanya lewat depan rumah Caca. Tentu hal itu adalah momen menyenangkan untuknya. Matanya tak lepas dari laki-laki itu sampai motor yang lelaki itu naiki benar-benar tak terlihat lagi.

Pernah suatu hari Caca berjalan pulang dari rumah saudaranya di sebrang jalan. Tiba-tiba saja hatinya bergetar. Dari jauh—benar-benar jauh—terlihat sebuah motor putih melaju dengan pengendara berkaos merah. Caca tak melepaskan pandangannya sambil berdiri di tepi jalan bersiap menyebrang. Pantas dia berdegup, laki-laki yang saat itu tidak diketahui namanya tengah lewat. Lagi saat dia pulang dari toko di sebelah rumahnya, Caca berjalan santai dan seperti kilat ia dikejutkan dengan penampangan dia lewat. Sontak Caca tersenyum senang dan sesaat kemudian, dia tersipu melihat kakak laki-lakinya tengah menyaksikan keanehan Caca. “Hayo, senyumin apaa?” tanyanya saat itu.

Tak hanya itu. Satu hal yang sangat diingat Caca. Lagi-lagi saat ia baru pulang dari rumah saudaranya yang berada di pojok pertigaan jalan. Di belokkan jalan raya ada jalan setapak yang kini sudah dipaving. Seperti biasa dia berjalan kaki karena jarak yang dekat. Dari arah jalan setapak itu dia melihat sebuah pick up berjalan lambat. Caca curiga sekaligus berharap jika itu pick up yang biasa untuk mengangkut material milik keluarga Pak Ersan. Benar saja. Saat dia berhenti untuk menyebrang, pick up itu juga berhenti di sebelahnya. Sosok di sebelah supir—yang artinya disebelahnya—tak sengaja menoleh ke arahnya. Caca reflek membuang muka. Bukan kesal, tapi dia menyembunyikan senyum yang muncul secara tiba-tiba. Apakah benar pria itu? Apakah Caca melihatnya tersenyum kepadanya? Apa Caca tengah halu? Caca tak lekas menyebrang meski jalanan sudah lenggang. Matanya kembali membuntuti kepergian mobil itu hingga hilang ditelan jalan. Ia senang. Sangat senang. 

Dan satu hal yang membuat Caca tak habis pikir, penampakan laki-laki itu tak lagi seperti oppa-oppa lokalnya. Dia seperti mas-mas yang bekerja di toko milik keluarganya itu. Atau jangan-jangan dia memang memilih bekerja di rumahnya. Entah, Caca belum tahu. Bagaimanapun tak ada yang bisa membuatnya tersenyum tak karuan selain menyaksikan drama korea dan laki-laki itu. Sebuah senyum yang secara berani mengusik jiwa Caca. Menimbulkan sensasi yang entah apa namanya. Sensasi yang Caca sendiri sulit untuk rasakan dari hal lain.

Dan bagaimana sekarang dengan ajaib dia menemukan keberadaan laki-laki itu di dunia maya. Ah, takdir. Caca mulai aktivitas teselubungnya. Stalking. Tapi tak banyak yang bisa diketahui Caca dari akun itu. Hanya nama Vandy dan status lajangnya yang belum ia tahu. Lainnya adalah hal umum yang ia tahu. Tentang asal tinggalnya, Caca malah lebih tahu. Entah, yang jelas dia senang bukan kepalang.

***

Hola. Cerpen kali ini bukan dari zaman dulu-dulu kayak sebelumnya ya. Hanya potongan ingatan dari kisah lama yang, sepertinya seru untuk diabadikan. Nah, pas diabadikan stuck di situ-situ aja. Cerita tanpa pembaca.

Kelanjutannya masih ada. Tapi sebatas di ingatan. Jadi, kalau ada waktu nanti kutulis lagi. Hehe. Salam.

31 Januari 2020