Selasa, 18 Desember 2018

Cerpen "Akhir : Cara Terampuh Membayar Rindu", kisah klise tentang kerinduan.

Cerpen ini dibuat berdasarkan kisah saya dan kawan-kawan saya. Selamat membaca. Silakan berkomentar. Terimakasih telah berkunjung.



Akhir : Cara Terampuh Membayar Rindu

Aku berada jauh dari kota kelahiranku. Tempat yang bisa membawaku ke segala lini keberagaman, kesakitan, kepayahan, kesedihan, kepahitan, dan tak lupa bentuk-bentuk kebahagiaan yang masih suatu saat nanti. Kurang tepat menyebut ini sebagai perantauan karena rumahku mampu ditempuh dengan dua jam perjalanan—jika di gunung tidak sedang macet.
            Subuh, Kak Ve menghubungiku. Dia kakak sepupu yang paling dekat denganku. Katanya keluarga kami akan datang kemari setelah melayat ke salah satu kerabat yang meninggal di kota ini. Dan siangnya, kami tengah berkeliling menggunakan mini bus sewaan dari rumah. Senang? Tentu saja. Meski hanya dua jam perjalanan, aku tidak dapat pulang setiap saat. Bayangan lelahnya menunggu angkot dan bus. Lelahnya berkendara naik turun gunung serta ongkos yang sebanding dengan sebuah novel best seller, membuat aku menahan diri. Kerinduanku kalah dengan logika ‘pelit’ku ternyata.
            Sesudah menyantap bekal yang disiapkan ibu dari rumah di alun-alun kota, mereka berpamitan. Aku memasang senyum lebar sebelum mereka pergi seakan mengatakan ‘aku baik-baik saja’ dan tentu aku baik-baik saja.
Setelah bertarung dengan ego, tinggal di sini adalah hal yang sangat aku syukuri. Menyecap bangku perkuliahan dengan ‘sedikit’ menekan orang tua serta memeras banyak keringat dan air mata membuatku menjadi sedikit lebih dewasa. Yah, menahan rindu memang bukan perkara mudah. Tapi demi kelangsungan masa depan, aku bertahan. Paling tidak dari keempat sahabatku—Ame, Aryn, Hani dan Vera—aku bisa menahan rindu.
Sebenarnya rasa rinduku tak seberat dulu saat baru lulus SMA. Bayangkan, kami yang selalunya bersama selama tiga tahun penuh, tiba-tiba saja berpisah. Ame belajar di Pare, Kediri. Aryn kuliah di Malang. Hani sibuk sekali. Dia aktif di kampusnya yang masih berada di kota kami. Meskipun swasta, aku yakin temanku yang satu itu belajar dengan sungguh-sungguh. Vera, meskipun kami sama-sama tidak kuliah tahun lalu, tapi dia selalu sibuk bekerja. Aku akui aku juga terlampau sibuk dengan kerjaku saat itu, tapi Vera jauh lebih sibuk. Tak ada akses komunikasi selain telpon dan pesan saat itu. Aku ingat setahun lalu, hanya tiga kali kami bertemu dan yang dua kali tak lengkap—Hani tak datang.
Sekarang berbeda. Aku berkuliah di sini bersama Ame. Sungguh kebersamaan yang aku yakini diirii oleh ketiga sahabatku yang lain. Selain itu, akses internet dan kecanggihan alat komunikasi membuat kami dengan mudah berkomunikasi. Entah media sosial atau apapun, mudah saja. Tapi lagi-lagi kesibukan masing-masing dari kami menghalangi. Aku lupa kapan terakhir mengirimi pesan di grup chat kami. Padahal dulu—saat aku belum kuliah—aku yang selalu mengobrol sendiri di grup, spam namanya.
Lelah seharian membayar rindu ke keluarga, aku memutuskan menunda mengerjakan tugas malam itu. Lagi. Aku tahu Selasa—besoknya—hari terlelah selama sepekan. Tugas, selalu ada. Tapi entah bagaimana caraku mengerjakan, aku selalu selesai tepat waktu. Rencanaku malam itu hanya tidur dan bermimpi.
***
Gagal. Aku tak mimpi apapun malam itu. Seperti biasa, Selasa pagi disambut dengan mata kuliah Sintaksis. Aku suka Sintaksis dan aku suka dosennya, tak ada yang aneh hari itu. Bahkan, dosen penyuntingan yang jarang hadir, hari itu mengajar dengan baik. Yah, meski tidak mengajar penuh tak apa, toh tugas yang baru kukerjakan pagi hari terkumpul. Lagi pula aku jadi punya waktu lebih bukan untuk mengerjakan tugas jurnalistik.
Aku tiba di kos saat matahari tengah panas-panasnya. Dengan membawa sebungkus bakso sayur, aku buru-buru membuka pintu. Kamarku pengap. Aku malas membuka jendela karena kucing-kucing nakal itu pasti masuk dan mengacaukan kamar. Masih seperti biasanya, setelah berganti baju aku makan bakso sayur sambil menonton Youtube. Belum puas, aku rehat sejenak. Membaringkan tubuh di lantai berkarpet biru sambil menghilangkan malas untuk solat. Saat itu sudah lebih dari jam satu, tapi aku masih berbaring sambil mengotak-atik hape hingga tertidur.
Tepat pukul dua aku terbangun. Setelah memeriksa jam di ponsel dan menyadari dua menit telah melewati jam dua, buru-buru aku mengambil wudhu. Setelahnya, aku kembali santai dan mulai mengerjakan tugas.
Hampir satu jam aku hanya wara-wiri di internet. Mencari referensi tulisan yang sedang aku kerjakan. Akhirnya aku mulai menulis pukul tiga. Satu jam sebelum tugas jurnalistik di kumpulkan. Aku yakin akan selesai, toh selama ini aku memang sering mengerjakan tugas di waktu mepet. Dan itu adalah cara terampuh mengeksploitasi pikiran.
Tulisanku berjalan lancar sampai setengah perjalanan. Aku menghitung waktu lagi. Sepertinya akan pas. Namun, ponselku berdering. Nomor asing. Aku mengamati foto profil sebelum mengangkatnya. Itu Sila, teman SMA-ku. Tidak sedekat keempat sahabatku itu tentunya.
“Halo, Sil. Ada apa?” tanyaku buru-buru. Selain penasaran aku juga ingin segera menyelesaikan tugas selagi ideku lancar saat itu.
“Mal,” panggil Sila lemah.
“Iya ada apa?” ulangku.
“Mal, kamu tahu Hani sekarang dimana?” aku bingung mau menjawab apa. Sila dan Hani sama-sama kuliah di kota kami. Kenapa tanya aku yang jauh di sini? Dari nada suaranya sepertinya Sila baru menangis. Atau, sedang menangis.
“Nggak tahu, Sil. Emang kenapa?” tanyaku lagi.
“Hani, Mal.” Suaranya parau. Kini aku yakin, dia baru menangis dan sedang menangis.
“Kenapa Sil, jangan buat aku cemas, deh.” Suaraku meninggi. Aku tak pedulu dengan tetangga kosku yang tengah menggosip atau apa di sebelah.
“Aku dapat kabar, Mal. Tapi aku masih nggak tahu pastinya.” Tangis Sila pecah. Dia tersedu. Aku masih bingung. Kenapa dengan anak ini? Dan kenapa dengan Hani? Sepertinya baru saja aku melihat Hani memposting sesuatu, tidak mungkin dia kenapa-kenapa.
“Iya, ada apa. Ngomong yang jelas.”
“Hani, Mal. Aku dapat kabar Hani kecelakan.” Suara kecil Sila tiba-tiba berubah serak. Aku malah kesulitan bersuara. “Aku dapat info ada kecelakaan di Jalan Merdeka dan setelah lihat fotonya dia Hani.” Aku masih mendengarkan. Mendengar tangisan Sila yang seperti itu aku tak habis pikir mau berkata apa. “Info yang beredar... dia meninggal.” Ingin sekali saat itu aku teriak. Mengumpat pada Sila. Kenapa dia yang tak pernah menghubungiku tiba-tiba memberi  kabar bohong?
Tanpa mengucapkan kalimat istirja’ aku berkata, “Enggaklah. Itu masih kabar burung. Sudah, kamu tenang dulu. Sekarang lebih baik kita cari tahu kebenarannya. Jangan sebar berita ini dulu, apalagi grup SMA.”
Perbincanganku dengan Sila selanjutnya sebatas pesan di ruang obrolan. Aku menghubungi kenalanku yang mungkin tahu tentang info kecelakaan lalu lintas di sana. Kemungkinan Hani kecelakaan sangat tidak mungkin. Memang Jalan Merdeka adalah jalan Hani ke kampusnya, tapi bagaimanapun, aku menolak kemungkinan itu.
Ame segera kuhubungi saat dia masih di kelas. Aryn masih praktikum katanya dan Vera tentu bekerja. Dia tak memegang ponsel saat bekerja. Sesaat kemudian, satu orang temanku yang berada di sana membenarkan perkataan Sila. Dia memang tidak mengenal Hani. Tapi foto identitas yang dikirimkan kepadaku benar milik Hani. Aku limbung.
Aku menunggu kabar dari Hendro. Untung aku mengenal Hendro ketika ikut kongres di Jogja tempo hari. Aku sempat terkejut mengetahui jika Hendro teman SD Hani. Tiga puluh menit yang lalu Hendro berkata tengah menuju rumah. Mereka tetangga. Aku meminta dia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Masih gelisah aku nekat menelpon Ame.
“Ame, jangan bicara dan cukup dengarkan.” Perintahku saat panggilan kami terhubung. “Barusan Sila nelpon aku. Katanya,” aku menahan napas sejenak. “ katanya Hani kecelakaan.” Tak kuasa, aku menangis. Suara gemerisik di seberang menandakan Ame masih mendengarkan. Aku meneruskan kalimatku dengan terbata. “Setelah ini aku akan kirim sesuatu ke kamu. Plis, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh dulu atau gimana. Yang jelas, kita cari tahu dulu kebenarannya.” Kataku melawan tangis dan kecemasan. “O iya, aku nggak masuk kelas jurnalistik.” Aku memutus panggilan kami.
Sesaat kemudian Aryn memanggil. Bukan telepon biasa tapi video call. Apa-apaan sih anak ini. Aku menolaknya. Dia menelpon lagi. Ini efek setelah aku menyepam tadi. Aku mengirim pesan suara serupa dengan yang kukatakan pada Ame. Setelahnya kukirim foto serupa. Dia tidak percaya. Aku pun demikian. Tapi aku hanya ingin kita sama-sama menghilangkan hoax yang ada di kawan kami. belum sampai kebenaran berita aku kantongi, grup kelas SMA sudah ramai saja. Aku menghalau semua pikiran negatif teman-teman. Tapi mereka seperti rem blong. Sudah merencanakan kapan akan melayat. Aku ingin mengumpat. Apa mereka tidak bisa membaca tulisanku? Tapi lama-kelamaan aku sadar. Bukan mereka yang tidak bisa membaca tulisanku, tapi aku yang tidak bisa membaca tulisan mereka. Semua info yang beredar sudah sangat jelas.
“Halo Assalamualaikum,” kataku saat suara sambungan terhubung. “Bu, aku mau pulang.” Aku yakin ibu sedang terkejut saat ini. Suara parauku pasti membuat ibu khawatir.
“Kapan?” aku tak menjawab. Berpikir, apa yang akan kukatakan pada ibu.
“Bu, aku tadi dapat kabar tapi aku nggak tahu maksudnya.” Kataku sambil menyandarkan diri ke tembok. Ibu menunggu kalimatku, tapi lidahku kelu. “Bu,” aku terisak. “Bu, Hani, Bu...” tak kusangka aku menangis saat itu. Meraung tak karuan seorang diri.
“Hani? Teman SMA kamu itu?” aku menjawab dengan tangis. Aku tahu hal ini membuat ibu khawatir, tapi aku tak bisa mengendalikan diri. Dengan tersedu kuceritakan semuanya sampai suara klakson motor terdengar. Ame masuk bersama Najwa, teman kuliah kami. Aku mencoba tegar dengan semua ini. Sama-sama merutuki teman-teman di grup yang masih membahas kapan akan takziah. Dua diantara mereka sudah menuju rumah duka. Hampir bersamaan, dua temanku itu dan Hendro memberi kabar yang sama. Benar,kabar itu membuat aku dan Ame menangis bersama. Hani sudah pergi.  
***
Aku ingin menyetel musik keras-keras. Kemudian menari-nari sambil berteriak, “Aku baik-baik saja.” Ibu mengijinkanku pulang tadi malam. Vera baru membuka pesanku malam tadi. Dan ajaib, Aryn sudah di sini.
“Lebih dari dua tahun kita nggak bareng-bareng lagi. Sekalinya ketemu, cuma saling ketawa-ketiwi nggak jelas. Ya, dari pertama kita kenal emang kek gini. Ketemu, ketawa, ketemu, ketawa, gitu aja. Kalo enggak, yang saling curhat. Ya ini, ya itu.” Aku tersenyum. Menyaksikan wajah datar Vera, Ame yang sendu, serta Aryn yang tegang, aku mencoba mencairkan suasana.
“Kamu tahu pasti, ada atau nggak ada kamu dulu, kamu selalu jadi tokoh utama.” Aku menunduk, diikuti ketiga temanku. “Perbincangan denganmu dan tentangmu selalu seru. Ada kekesalan yang selalu jadi bumerang cicit tawa.” Aku mengambil napas dalam-dalam. Mencoba berbicara senormal mungkin mencegah keparauan yang mulai muncul.
“Kamu kok baik sih? Kamu paling pinter lagi. Tanpa kamu masa SMA kita bakal garing. Atau mungkin, kita berlima nggak akan kenal. Aku ingat teori-teori kehidupanmu. Kata bapakku... kata ibuku.... Kalimat itu nggak pernah absen dari setiap ceritamu. Kehadiranmu dimasa itu, selalu jadi kenangan.” Pandanganku beralih dari nisan ke kembang mayang yang masih segar.
Teringat tangis ibu Hani saat kami baru masuk rumahnya tadi. Beliau tersedu sambil memeluk kami berempat. Aku tak kuasa mengingat. Beliau tak henti-hentinya meminta maaf atas segala kesalahan Hani. ‘Tenang Bu, anak ibu teman yang baik.’ kataku dalam tangis. Kemudian beliau terduduk di sisi tembok memeluk erat tas dan jaket milik Hani. Aku melihat kedua orang tua yang selalu diceritakan Hani itu pucat. Ya, anak yang baik dengan orang tua yang baik pula.
Lirih ibu Hani berkata. “Jam dua kemarin, Nak.” Aku teringat saat aku terbangun kemarin, tepat pukul dua. Diakah yang membangunkanku? Mengingatkanku untuk jangan lalai dan segera solat. “Ini tas yang dipakai Hani kemarin.” Dengan seksama, aku melihat  jaket yang dipegang ibu Hani. Jaket serupa dengan milikku dan ketiga sahabatku lainnya. Ya, kami membuat sama-sama jaket itu. Sekarang, jaket itu kehilangan pemiliknya.
“Mungkin jarak dan waktu memenggal kita selama ini. Kecemburuanku karena kesibukkanmu mempengaruhi egoku untuk juga sibuk. Menjalani hidup masing-masing dengan masih saling pandang dan mengingat, hingga hari itu tiba.” Kali ini, aku tidak menyuarakan perkataanku. Aku membatinnya sambil terisak menahan tangis. Setelah doa yang dipimpin Ame tadi, terjadi keheningan.
Angin pagi menerpa seakan kesunyian di tempat keramat ini mempersilakan kami kembali. Hari yang mempersatukan jiwa kami dalam keeratan yang tak lagi tampak. Batin yang sebatas angan menjadi kenangan. Bunga-bunga harum menemani. Kenyataan melahap persahabatan. Rindu telah terbayar dengan gundukan tanah merah. Rasanya, masih seperti mimpi.
***
Kamis, 1 November 2018
Rasanya baru kemarin kita saling bertukar impian. Katamu, kamu ingin menjadi guru mengaji saat memutuskan masuk universitas Islam swasta itu. Ah, aku lupa jika kamu yang satu tahun diatasku sudah magang di sekolah dasar. Dan sudah setahun lebih kamu mengajar ngaji di masjid dekat rumahmu itu. Lalu, tentang pria yang pernah kau ceritakan tempo hari, bagaimana? Yang kau tolak saat memutuskan menuntut ilmu dari pada menikah. Dan maaf, aku pernah mencibirmu saat kau mulai menutup seluruh auratmu, wajah cantikmu. Kawan, mimpikah ini?
Setiap hari, aku membayangkan mimpi lampau kita. Berlima membangun sebuah tempat belajar. Ya, semacam sekolah yang kita kelola, mimpi konyol remaja SMA. Berlima. Kau, lupa? Kita punya banyak rencana untuk dilakukan saat kita sama-sama telah dewasa. Ke gunung yang selalu kau ceritakan, kita akan ke sana bukan? Kita. Dan jangan lupa tentang film favoritmu. 5cm. Ya, kamu ingin seperti itu kan? Melalui segala hal dan bertemu di puncak. Apa kamu lupa tentang masa depan yang kita impikan itu? Tentang mengenalkan anak-anak kita kelak dengan manisnya persahabatan. Ini belum saatnya. Belum. Tapi, kenapa takdir yang kau miliki begitu? Seperti mimpi! Janji-janji kita sebatas mimpi.
Ya. Mimpi. Kemarin lusa mimpi. Kemarin juga mimpi. Malam ini mimpi. Besok pun mimpi. Besoknya lagi mimpi. Aku hanya menunggu pagi hingga terbangun. Menunggu waktu hingga kita dipertemukan di puncak kehidupan. Sampai kenangan akan menumpuk menjadi bekal perbincangan masa depan.
Hani, jalanmu sudah benar. Citamu sudah terwujud. Kau punya cinta. Kasih sayang keluarga dan terkasih mu tampak sudah. Doa dari murid-muridmu menemani. Ilmu-ilmumu kan bermanfaat. Orang tuamu bangga kawan.
Kami sayang. Kita tetap kita. Tenang di sana. Salam rindu dari temanmu yang akan selalu rindu.





NB: Cerpen ini saya dedikasikan untuk para sahabat saya. Terutama untuk Hani (bukan nama sebenarnya) yang telah berpulang satu setengah bulan lalu. Tak ada kerinduan lain saat ini selain dia. Terimakasih.






 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar